
Suriah Kecam Liga Arab Karena Kerusuhan Berkecamuk

Damaskus, (Antara/Xinhua-OANA) - Kementerian Luar Negeri Suriah, Rabu (5/6), mengatakan dalam satu pernyataan Damaskus tidak peduli dengan setiap keputusan yang disahkan oleh Liga Arab sebab blok itu telah menjadi pemain dalam perang melawan Suriah. Pernyataan kementerian tersebut dikeluarkan saat para menteri luar negeri Liga Arab pada hari yang sama "mengutuk semua bentuk campur tangan asing" di Suriah, terutama oleh kelompok gerilyawan Lebanon, Hizbullah. Sekretaris Jenderal Liga Arab Nabil Al-Arabi mengatakan dalam pertemuan menteri luar negeri itu Presiden Suriah Bashar al-Assad takkan memiliki peran dalam Suriah masa depan. "Liga Arab adalah pihak utama dalam perang melawan Suriah, dan apa pun yang dihasilkannya selama pertemuannya ... tak berkaitan dengan Suriah sama sekali," kata kementerian tersebut. Selain itu, kementerian tersebut menekankan Liga Arab takkan menjadi bagian apa pun dalam penyelesaian krisis Suriah karena blok itu adalah pihak utama dalam masalah di Suriah, "dan semua pertemuannya tak lebih dari upaya untuk mensahkan keberadaannya", demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakara, Kamis malam. Pernyataan Liga Arab itu dikeluarkan saat militer Suriah baru-baru ini merebut kembali Kota Al-Qussair di Suriah Tengah, tempat petempur oposisi menyatakan kemenangan tersebut disebabkan oleh dukungan Hizbullah. Sikap bermusuhan Damaskus terhadap Liga Arab muncul setelah Liga Arab membekukan keanggotaan Suriah pada November 2011, sehubungan dengan penindasannya atas protes rakyat. Liga Arab juga menjatuhkan sanksi politik dan ekonomi atas Pemerintah Suriah dan menyeru semua negara anggotanya agar menarik duta besar mereka dari Damaskus. Tak lama setelah itu, Liga Arab menghentikan misi pemantaunya di Suriah, dengan alasan peningkatan tajam kerusuhan. Namun tindakan tersebut dipandang oleh Damaskus sebagai tindakan untuk menekan Dewan Keamanan agar menyetujui campur tangan asing dalam krisis Suriah. Awal tahun ini, Liga Arab menyerahkan kursi Suriah kepada kelompok oposisi Koalisi Nasional Suriah dalam satu pertemuan tingkat tinggi di Qatar, sehingga makin menjauhkan dirinya dari negara Arab itu. Dalam perkembangan paling akhir Pemerintah Bashar menghadapi tuduhan yang makin gencar mengenai penggunaan senjata kimia. Presiden Prancis Francois Hollande pada Rabu mengatakan dunia harus bertindak dalam menanggapi bukti nyata penggunaan gas sarin --zat yang mematikan saraf-- di Suriah. Inggris tak mau ketinggalan dan mengatakan London memiliki bukti penggunaan sarin, tetapi mengatakan pihaknya akan menunggu pengabsahan independen oleh PBB sebelum menarik kesimpulan dan jika ada. Namun Washing lebih berhati-hati. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry, Rabu, meminta timpalannya dari Prancis Laurent Fabius untuk membagi bukti penggunaan senjata kimia oleh Pemerintah Suriah terhadap pasukan gerilyawan. "Saya bertanya ... apakah dia bisa mengirimkan kepada kami informasi yang dapat menunjukkan kepada kami rantai asal bukti itu, sehingga kami tahu persis dari mana asalnya," kata Kerry di sela-sela pertemuan Organisasi Negara Amerika. Pemerintah Presiden Barack Obama menghadapi tekanan baru untuk mengambil tindakan terhadap dugaan pelanggaran atas "garis merah" terkait penggunaan senjata kimia oleh rezim Suriah atau pergerakan senjata kimia, setelah informasi baru diumumkan di Paris. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
