
Petani Cengkeh Bentuk Badan Usaha

Jakarta, (Antara) - Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI) sepakat membentuk badan usaha, untuk memotong mata rantai perdagangan cengkeh yang dinilai terlalu panjang sehingga membuat harga menjadi mahal di pasaran. Ketua APCI Soetardjo seusai Rakernas Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia di Jakarta, Selasa mengatakan, harga rata-rata cengkeh per kilogram normalnya Rp60.000-Rp80.000, dan menjadi mahal karena mata rantai yang panjang. Bahkan di saat anomali iklim menganggu pertanaman cengkeh, tambahnya, harga merangkak naik mencapai Rp90.000-Rp110.000 dan bulan Mei ini menembus Rp120.000 per kilogram. "Namun biasanya petani cengkeh menikmati harga lebih rendah dibandingkan yang terbentuk di pasar. Rantainya dari petani cengkeh, ditampung pengepul kecil, pengepul besar, vendor terus masuk ke pabrik rokok," katanya. Untuk menjaga harga stabil, kata Soetardjo, disepakati pembentukan badan usaha, sehingga cengkeh hasil produksi petani bisa langsung dibeli oleh badan usaha tanpa melalui perantara. "Kami sepakat mematok harga beli dari petani Rp75 ribu per kilogram, jadi petani tetap menikmati harga tinggi, dan pabrik rokok juga tidak membeli terlalu mahal, cengkeh tersebut," katanya. Data APCI menunjukkan, rata-rata produksi cengkeh per tahun sebesar 70-110 ribu ton, dari jumlah tersebut 93 persen diserap pabrik rokok kretek, sebagian di ekspor. Jika dari sisi produksi terjadi over suplai, biasanya harga cengkeh jatuh, bahkan pada 2007, harga terendah berada di level Rp30 ribu per kilogram. "Jadi, petani cengkeh berharap harga stabil dibandingkan terjadi gejolak harga," kata Soetardjo. Menurut dia, rata-rata produksi cengkeh mengalami penurunan sebesar lima persen,untuk menjaga produktivitas, APCI berkomitmen menaikkan produksi dengan strategi intensifikasi dan rehabilitasi tanaman, serta menjaga keseimbangan suplai dan demand. Sementara itu Dirjen Perkebunan Gamal Nasir mengakui produktivitas cengkeh masih rendah, karena kondisi tanaman yang sudah tua, rusak dan serangan hama penyakit. "Jadi 98 persen itu, kebun cengkeh milik rakyat, harga masih menjadi perhatian, jika terjadi over produksi justru harga menurun dan serapan pabrik rokok berkurang," ujarnya. Menurut Gamal, produktivitas rata-rata cengkeh saat ini hanya 260-360 kilogram per hektare dalam kurun waktu tiga tahun, padahal sebelumnya produktivitas cengkeh pernah menembus angka 500-600 kilogram per hektare. Keterbatasan benih unggul, sarana dan anomali iklim menjadi penyebabnya, selain itu, luasan lahan tanaman cengkeh juga terus menurun. Pada 1987 luasan lahan perkebunan cengkih mencapai 742 ribu hektare, namun pada 2000 merosot menjadi 470 ribu hektare. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
