Dolar AS menguat empat hari beruntun

id indeks dolar,kebijakan Fed,Covid-19

Dolar AS menguat empat hari beruntun

Beberapa lembar uang seratus dolar AS di latar belakang uang kertas seratus dolar AS. ANTARA/Shutterstock/pri.

New York (ANTARA) - Dolar AS menguat untuk hari keempat berturut-turut dan diperdagangkan pada level tertinggi lebih dari delapan minggu pada Rabu (Kamis pagi WIB), ketika permintaan safe-haven meningkat di tengah pergerakan liar di pasar keuangan dan investor mempertanyakan kecepatan pemulihan ekonomi global di tengah meningkatnya kasus virus corona.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, menambah keuntungan seiring berlanjutnya sesi dan ekuitas AS mempertajam penurunannya. Indeks dolar terakhir naik 0,43 persen pada 94,3914 setelah sebelumnya mencapai 94,435, level tertinggi sejak 2 Juli.

Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,1656 dolar AS dari 1,1704 dolar AS pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi 1,2715 dolar AS dari 1,2733 dolar AS pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi 0,7076 dolar AS dari 0,7166 dolar AS.

Dolar AS dibeli 105,41 yen Jepang, lebih tinggi dari 104,92 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9241 franc Swiss dari 0,9198 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3378 dolar Kanada dari 1,3309 dolar Kanada.

Pergerakan itu terjadi karena aksi jual besar-besaran berlanjut di Wall Street dengan Dow turun lebih dari 500 poin di sesi sore pada perdagangan Rabu (23/9).

"Pasar terus mengevaluasi kembali sikap yang sebelumnya sangat optimistis terhadap status risiko global di luar sana," kata Ben Randol, ahli strategi valas senior di BofA Securities di New York, seperti dikutip oleh Reuters.

“Arus berita negatif tentang virus dan negatif tentang pertumbuhan. Kami memiliki beberapa data yang payah dan juga kami memiliki pembicara Fed yang telah bersikap kurang dovish dari perkiraan pasar," kata Randol.

Randol juga mengutip komentar dari Federal Reserve setelah Presiden Federal Reserve Chicago Charles Evans mengirim investor menyerbu dolar yang aman pada Selasa (22/9) dengan melontarkan gagasan kenaikan suku bunga.

Sementara itu, Wakil Ketua Fed Richard Clarida mengatakan pada Rabu (23/9) bahwa para pembuat kebijakan "bahkan tidak akan mulai berpikir" tentang menaikkan suku bunga sampai inflasi mencapai dua persen.

Para pelaku pasar juga mengkhawatirkan ketidakpastian dari pandemi virus corona. Lebih dari 6,9 juta kasus COVID-19 yang dikonfirmasi telah dilaporkan di Amerika Serikat dengan kematian melebihi 201.000 pada Rabu sore (23/9), menurut penghitungan oleh Universitas Johns Hopkins.

Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar