Logo Header Antaranews Sumbar

Mali Hancurkan Sel Militan di Bamako

Selasa, 30 April 2013 07:09 WIB
Image Print

Bamako, (Antara/Reuters) - Pasukan keamanan Mali menangkap sedikitnya delapan orang yang dituduh merencanakan serangan di ibu kota negara itu, Bamako, untuk kelompok militan MUJWA, kata dua sumber keamanan senior, Senin. Menurut beberapa pejabat Mali, penangkapan orang-orang itu merupakan tanda pertama bahwa gerilyawan yang memerangi pasukan Prancis dan Afrika untuk memperebutkan wilayah gurun utara telah mengaktifkan sel-sel mereka di Bamako, yang terletak di Mali selatan. Seorang pejabat tinggi militer mengatakan kepada Reuters, sebuah kelompok yang terdiri dari 15 orang dilatih MUJWA yang terkait dengan Al Qaida di Gao, Mali utara, dan berencana melakukan pemboman di Bamako ketika mereka ditangkap. "Kelompok itu dihancurkan pada awal Maret, namun karena masalah itu sangat sensitif, kami tetap merahasiakannya (sampai sekarang)," kata perwira yang tidak bersedia disebutkan namanya itu. Ia menambahkan, kelompok itu beranggotakan orang-orang Mali dan mereka tinggal di daerah Banankabougou, Bamako, di dekat sebuah masjid. Seorang pejabat keamanan kedua mengkonfirmasi penangkapan itu namun menyebutkan jumlah orang yang lebih sedikit -- delapan orang. Pihak berwenang tidak memberikan pernyataan resmi mengenai hal itu. Prancis, yang bekerja sama dengan militer Mali, pada 11 Januari meluncurkan operasi ketika militan mengancam maju ke ibu kota Mali, Bamako, setelah keraguan berbulan-bulan mengenai pasukan intervensi Afrika untuk membantu mengusir kelompok garis keras dari wilayah utara. Prancis akan mengurangi pasukannya yang kini berjumlah 4.500 orang menjadi 1.000, dan resolusi PBB mengizinkan Prancis "menggunakan segala cara yang diperlukan" untuk campur tangan ketika pasukan PBB "berada dalam ancaman serius dan segera". Pasukan Afrika barat yang sudah berada di Mali akan membentuk kekuatan inti dari Misi Stabilisasi Terpadu Multidimensi PBB, yang dikenal dengan singkatan Prancis MINUSMA. Pasukan Prancis secara bertahap akan digantikan mulai Juli oleh pasukan penjaga perdamaian berkekuatan 12.600 orang yang bertanggung jawab atas kestabilan wilayah utara Mali. Pembentukan pasukan itu telah disahkan oleh Dewan Keamanan PBB. Mali, yang pernah menjadi salah satu negara demokrasi yang stabil di Afrika, mengalami ketidakpastian setelah kudeta militer pada Maret 2012 menggulingkan pemerintah Presiden Amadou Toumani Toure. Masyarakat internasional khawatir negara itu akan menjadi sarang baru teroris dan mereka mendukung upaya Afrika untuk campur tangan secara militer. Kelompok garis keras, yang kata para ahli bertindak di bawah payung Al Qaida di Maghribi Islam (AQIM), menguasai kawasan Mali utara, yang luasnya lebih besar daripada Prancis, sejak April tahun lalu. Pemberontak suku pada pertengahan Januari 2012 meluncurkan lagi perang puluhan tahun bagi kemerdekaan Tuareg di wilayah utara yang mereka klaim sebagai negeri mereka, yang diperkuat oleh gerilyawan bersenjata berat yang baru kembali dari Libya. Namun, perjuangan mereka kemudian dibajak oleh kelompok-kelompok muslim garis keras. Kudeta pasukan yang tidak puas pada Maret 2012 dimaksudkan untuk memberi militer lebih banyak wewenang guna menumpas pemberontakan di wilayah utara, namun hal itu malah menjadi bumerang dan pemberontak menguasai tiga kota utama di Mali utara dalam waktu tiga hari saja. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026