Logo Header Antaranews Sumbar

Utusan Rusia di PBB: Bantuan kepada Oposisi Suriah Berbahaya

Kamis, 25 April 2013 12:30 WIB
Image Print

PBB, (Antara/RIA Novosti-0ANA) - Duta Besar Rusia untuk Perserikatan Bangsa Bangsa Vitaly Churkin di Dewan Keamanan PBB, Rabu, mengatakan memberikan bantuan kepada oposisi bersenjata Suriah yang berusaha mengganti rezim negara tersebut adalah berbahaya. "Jika ingin perang habis-habisan, didorong oleh minoritas masyarakat dunia yang agresif, ini lebih lanjut akan memperburuk situasi dan meningkatkan kegiatan teroris, termasuk di negara-negara tetangga," kata Churkin pada pertemuan Dewan mengenai Timur Tengah. Churkin mengatakan, ia secara khusus menyebutkan kesiapan sejumlah negara untuk memberikan kelompok-kelompok ilegal di Suriah dengan senjata "yang akhirnya bisa menetap di tangan teroris." Dia juga mengkritik keputusan baru Uni Eropa untuk mengurangi sanksi terhadap Suriah, dan mengatakan minyak dan produk minyak dari wilayah yang diduduki oposisi akan dijual dan "arus keuangan akan mengalir ke kelompok bersenjata terkuat," kata Churkin, termasuk kepada kelompok radikal dan ekstremis yang memegang banyak deposit minyak. Dewan Uni Eropa pada Senin mencabut embargo minyak 2011 terhadap Suriah, yang memungkinkan negara-negara anggota Uni Eropa untuk membeli minyak dari wilayah negara itu yang dikuasai pemberontak, dan berinvestasi di sektor energi di daerah tersebut. Dikatakan bahwa langkah itu dirancang untuk membantu penduduk sipil dan mendukung oposisi di Suriah. Rusia telah mengkritik keputusan Uni Eropa itu sebagai "kontraproduktif" dan mengarah kepada "kebuntuan lebih dalam pada dialog internal Suriah." Pihak berwenang Suriah pada Selasa menyebut keputusan Uni Eropa untuk mengizinkan impor minyak dari wilayah Suriah dan turunannya melalui transaksi eksklusif dengan pemberontak adalah langkah "ilegal" dan dan "tindakan agresi." Produksi minyak di Suriah telah menurun hampir 60 persen sejak awal pemberontakan melawan rezim Presiden Bashar Assad pada Maret 2011. Menurut data terbaru pemerintah AS, hasil harian minyak Suriah mencapai sekitar 153.000 barel per hari pada Oktober 2012. Pemberontak Suriah menguasai sebagian besar daerah kaya minyak di negara itu. Sekitar 70.000 orang telah tewas di Suriah sejak awal pemberontakan terhadap Bashar, menurut hitungan PBB. Rusia, bersama dengan China, telah menghadapi kecaman luas karena penolakannya untuk menyetujui sanksi-sanksi PBB terhadap rezim Bashar. Moskow telah berulang kali menyatakan tidak memiliki kepentingan dalam memandang agar Bashar tetap berkuasa, tetapi agak khawatir bahwa sanksi sepihak akan menciptakan kekosongan kekuasaan yang akan mengakibatkan lebih banyak terjadi kekerasan. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026