Logo Header Antaranews Sumbar

Taliban Pakistan Bantah Serang Pekerja Polio

Sabtu, 13 April 2013 06:16 WIB
Image Print

Miranshah, Pakistan, (Antara/AFP) - Taliban Pakistan hari Jumat membantah terlibat dalam serangan-serangan terhadap pekerja polio yang menewaskan 21 orang sejak Desember namun menegaskan bahwa mereka menentang vaksinasi penyakit itu. Kelompok Taliban tahun lalu melarang vaksinasi polio di kawasan suku Waziristan karena dianggap sebagai misi terselubung untuk spionase. Desas-desus bahwa vaksinasi itu merupakan persekongkolan untuk mensterilkan umat Islam membayang-bayangi upaya mengatasi penyakit sangat menular itu di Pakistan, salah satu dari hanya tiga negara yang masih endemis penyakit tersebut. "Kami tidak ada kaitannya dengan serangan-serangan terhadap tim pekerja polio," kata Ehsanullah Ehsan, juru bicara Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), kepada AFP. "Kami sangat menentang vaksin anti-polio karena tidak Islami dan buruk bagi kesehatan," kata Ehsan. Ia mengatakan bahwa rakyat Pakistan tidak membutuhkan "simpati" dari PBB, yang mendanai program vaksinasi itu, sementara pesawat-pesawat tak berawak AS menyerang gerilyawan Taliban dan Al Qaida di daerah perbatasan baratlaut dengan Afghanistan. Kasus-ksaus polio di Pakistan mencapai 198 pada 2011, angka tertinggi selama lebih dari satu dasawarsa dan yang paling banyak diantara negara-negara dunia, kata PBB. Afghanistan dan Nigeria merupakan dua negara lain dimana penyakit itu masih endemis. Kamis, Ehsan mengklaim pihaknya bertanggung jawab atas pembunuhan seorang calon dari partai sekuler Gerakan Muttahida Qaumi (MQM), mitra koalisi dalam pemerintah yang sebelumnya diancam oleh kelompok Taliban Pakistan. "Pembunuhan itu merupakan bagian dari perang dengan partai-partai sekuler yang mencakup MQM, Partai Rakyat Pakistan dan Partai Nasional Awami, yang melakukan genosida terhadap suku kami dan muslim sambil tetap berkuasa selama lima tahun," kata Ehsan. Fakhrul Islam (46) adalah calon pertama yang tewas selama kampanye pemilihan umum dalam serangan yang diklaim oleh Taliban. Ia dibunuh oleh orang-orang bersenjata yang naik sepeda-motor ketika ia meninggalkan toko miliknya dan ayahnya di kota Hyderabad, Pakistan selatan pada Kamis, kata polisi. Pembunuhan Islam, yang mencalonkan diri untuk dewan provinsi Sindh, meningkatkan kekhawatiran bahwa kekerasan akan merusak pemilihan umum nasional dan regional pada 11 Mei. Pemilu itu akan menandai peralihan demokratis pertama di negara berkekuatan nuklir itu, yang selama beberapa periode berada di bawah kekuasaan militer. Pakistan dilanda serangan-serangan bom bunuh diri dan penembakan yang menewaskan lebih dari 5.200 orang sejak pasukan pemerintah menyerbu sebuah masjid yang menjadi tempat persembunyian militan di Islamabad pada Juli 2007. Kekerasan sektarian meningkat sejak gerilyawan Sunni memperdalam hubungan dengan militan Al Qaida dan Taliban setelah Pakistan bergabung dalam operasi pimpinan AS untuk menumpas militansi setelah serangan-serangan 11 September 2001 di AS. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026