
Kompolnas Apresiasi Pimpinan TNI AD

Jakarta, (Antara) - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengapresiasi pimpinan TNI AD yang sudah menyampaikan hasil investigasi penyerangan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cebongan, Sleman, Yogyakarta. "Penyerang berjumlah 11 orang adalah anggota Kopassus. Hal ini menunjukkan komitmen yang tinggi dari pimpinan TNI terhadap supremasi hukum," kata anggota Kompolnas Hamidah Abdurrahman dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Kamis. Menurut Hamidah, Kompolnas pada saat mengunjungi Polda Daerah Istimewa Yogyakarta memang sudah mendapat gambaran bahwa penyerangan Lapas sangat berkaitan erat dengan penganiayaan yang menewaskan Sertu Santoso di Hugo's Cafe. "Meski kemudian muncul spekulasi bahwa pelakunya adalah polisi namun orang yang memiliki motif terhadap empat tersangka tersebut tentu berasal dari kesatuan yang sama dengan korban," ujarnya. Lembaga pengawas kepolisian itu berharap proses peradilan terhadap penyerang yang menewaskan empat tersangka itu akan berjalan dengan adil. Sebelumnya, pada Kamis petang, Ketua tim investigasi dari Mabes TNI Angkatan Darat Brigjen TNI Unggul K Yudhoyono, mengungkapkan sebanyak sebelas oknum anggota Grup 2 Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Kandang Menjangan Kartosuryo, terlibat dalam penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B, Cebongan, Sleman, Yogyakarta yang menyebabkan empat orang tahanan tewas pada 23 Maret lalu. "Sebelas oknum Kopassus terlibat penyerangan Lapas IIB Cebongan. Satu orang eksekutor, delapan orang pendukung dan dua orang pencegah," kata Unggul yang juga menjabat sebagai Wakil Komandan Pusat Polisi Militer TNI AD (Puspomad) di Kartika Media Center TNI AD itu. Delapan orang pendukung itu, kata dia, menggunakan dua unit mobil, yaitu satu unit mobil Avanza warna biru dan satu unit mobil APV berwarna hitam. Sementara dua orang lainnya yang bertindak sebagai pencegahan menggunakan mobil Feroza. "Satu orang eksekutor ini berinisial U. Sembilan pelaku penyerangan itu berpangkat bintara dan tamtama," katanya. Kedua prajurit lainnya, kata dia, sebenarnya berusaha mencegah terjadinya penyerangan, namun tidak mampu menghentikan aksi rekan-rekannya. Tindakan penyerangan, menurut Unggul, dilakukan secara reaksi dan spontan sebagai akibat meninggalnya akibat Grup 2 Kopassus Serka Heru Santoso pada 19 Maret, dan pembacokan mantan anggota Kopassus Sertu Sriyono oleh para preman Yogyakarta. "Peristiwa penyerangan ke Lapas Cebongan, benar sebagai akibat pembunuhan kelompok preman atas dua rekannya," ujarnya. Selama enam hari bekerja, tim investigasi telah melaksanakan penyelidikan ke berbagai tempat, seperti Lapas Cebongan, Korem Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Markas Grup 2 Kopassus Karang Menjangan, yang telah memeriksa 25 orang. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
