Logo Header Antaranews Sumbar

Bom Bunuhdiri di Timbuktu Tewaskan Dua Tentara Mali

Minggu, 31 Maret 2013 14:12 WIB
Image Print

Bamako, (Antara/AFP) - Seorang pembom bunuhdiri meledakkan bawaannya di kota Timbuktu, Mali utara, pada Sabtu dan menimbulkan kekhawatiran akan gelombang kekerasan baru oleh gerilyawan setelah ledakan ranjau menewaskan dua tentara. Perwira militer mengatakan seorang tentara Mali cedera akibat serangan bunuhdiri di barikade militer di Timbuktu, yang kedua dalam sembilan hari. "Seorang pembom bunuh diri gerilyawan Islam meledakkan bom yang dililitkan ditubuhnya setelah berusaha tetapi tidak berhasil menerobos barikade di pintu masuk barat Timbuktu, yang dijaga tentara Mali," kata perwira itu kepada AFP. "Seorang tentara Mali cedera" dan pembom tewas seketika, tambahnya dan mengatakan ia tidak dapat merinci lebih jauh. Sejumlah penduduk Timbuktu melaporkan mereka mendengar suara ledakan Sabtu malam disusul dengan tembakan senjata api. "Semua orang berada dalam rumah mereka," kata eornag penduduk kepada AFP. "Tidak ada warga sipil di luar. Kami takut." Sabtu pagi, satu ledakan ranjau darat menewaskan dua tentara Mali di daerah Gao di timur Timbuktu, kata kementerian pertahanan. "Satu kendaraan detasemen angkatan bersenjata Mali meledak akibat satu ranjau 110km dari Ansongo. Dua orang tewas dan kendaraan itu hancur," kata seorang juru bicara kementerian itu dslam satu pernyataan. Ia mengatakan tidak ada tentara lain cedera akibat ledakan yang terjadi ketika kendaraan itu membawa satu kesatuan pasukan dari Niger menuju Ansongo. Seorang perwira Mali yang berbicara tanpa bersedia namanya disebutkan mengatakan ranjau itu "ditanam kelompok gerilyawan Islam". Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab bagi serangan serangan itu. Mali menjadi sasaran serangkaian serangan yang diklaim gerilyawan sejak Prancis melancarkan satu intervensi militer terhadap kelompok yang punya hubungan dengan Al Qaida yang sempat menguasai Mali utara. Operasi yang dipimpin Prancis itu dilakukan 11 Januari, memaksa kelompok garis keras keluar dari kota-kota yang mereka duduki selama 10 bulan setelah kudeta militer Maret 2012. Tetapi pasukan Prancis dan Afrika menghadapi serangan-serangan bom bunuh diri yang terus dilakukan gerilyawan untuk merebut kembali wilayah itu. Pada 21 Maret,seorang pembom bunuh diri meledakkan satu mobil dekat bandara Timbuktu, melakukan serangan malam harin ke kota itu. Ledakan itu menewaskan seorang tentara Mali. Sekitar 10 petempur Islam tewas dalam pertempuran dengan pasukan Prancis dan Mali, kata seorang juru bicara militer Prancis. Serangan itu dilakukan oleh Gerakan bagi Tauhid dan Jihad di Afrika Barat (MUJAO), salah satu dari tiga kelompok Islam yang merebut Mali utara itu. MUJAO mengatakan pihaknya telah "membuka front baru di Timbuktu", yang tidak diserang sejak pasukan pimpinan Prancis memasuki kota itu pada 28 Januari-- tidak seperti Gao, kota terbesar di utara, yang dilanda sejumlah serangan bom bunuh diri dan gerilyawan yang diklaim MUJAO. Jalan tempat terjadinya ledakan ranjau Sabtu itu terletak di tenggara Gao. Setelah ledakan itu, kementerian pertahanan menyeru penduduk "meningkatkan kewapadaan mereka dan memberitahu kepada kesatuan militer terdekat setiap penyusupan oleh orang-orang yang mencurigai secepat mungkin". (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026