Logo Header Antaranews Sumbar

WWF Temukan Jejak Badak Sumatera

Jumat, 29 Maret 2013 07:45 WIB
Image Print

Sendawar, (Antara) - Tim monitoring World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia menemukan jejak segar yang diduga jejak Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatransis) pada survei Februari 2013 di hutan-hutan di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Siaran pers WWF Indonesia yang diterima Antara, Kamis (28/3) malam, menyebutkan, tim survei menemukan jejak kaki di tanah, bekas kubangan, bekas gigitan dan pelintiran pada pucuk tanaman di kabupaten yang jauhnya 250 km barat laut Balikpapan itu. Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH), Kementerian Kehutanan, Bambang Novianto, mengatakan, penemuan ini sangat menggembirakan karena badak Sumatera di Kalimantan terakhir dilacak keberadaannya di awal tahun 1990-an. Setelah itu, Badak Sumatera di Kalimantan dianggap punah karena tidak pernah lagi terdeteksi keberadaannya. "Penemuan ini sangat penting bagi dunia, khususnya bagi konservasi Indonesia, sebab ini menjadi pencatatan baru (new record) keberadaan badak di Kalimantan Timur, khususnya di wilayah Kutai Barat," kata Bambang Novianto. International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah mengklasifikasikan Badak Sumatera ini dalam kategori kritis (Critically Endangered). Oleh sebab itu, Direktur Konservasi WWF-Indonesia Nazir Foead mengatakan, temuan ini membawa kabar gembira dan menjadi momen penting sejak dicanangkannya Tahun Badak Internasional pada 5 Juni 2012 lalu oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Desmarita Murni, juru bicara WWF-Indonesia mengatakan, tim menemukan jejak badak ini saat melakukan monitoring orangutan beberapa lama sebelum survei di bulan Februari. Tim jua menemukan bekas gesekan tubuh badak pada pohon, gesekan cula pada dinding kubangan, dan mengidentifikasi ketersediaan pakan badak yang berlimpah dan bervariasi. "Ada lebih dari 30 spesies tumbuhan pakan," sambung Desmarita Murni. Menurut beberapa ahli badak di WWF-Indonesia dan ahli dari Universitas Mulawarman Dr Chandradewana Boer, dipastikan spesies tersebut adalah Badak Sumatera (dicerorhinus sumatrensis). Temuan survei tersebut juga didukung data historis sebaran Badak Sumatera di Kalimantan yang sudah terdokumentasi sebelumnya. Namun demikian belum diketahui berapa ekor badak yang teridentifikasi melalui temuan jejak tersebut. "Informasi keberadaan ini menjadi penting untuk strategi perlindungan populasi dan pembinaan habitat di mana badak tersebut ditemukan, apalagi jika populasinya terbukti ada dan berkembang biak," lanjut Novianto. Untuk itu, tambah Novianto, diperlukan kerja sama banyak pihak termasuk masyarakat lokal, perusahaan, pemerintah, dan lain-lain untuk mengambil langkah-langkah tepat demi konservasi badak tersebut. Lebih jauh, menurut Direktur Konservasi WWF-Indonesia Nazir Foead, WWF-Indonesia bersama Kementerian Kehutanan dan Pemkab Kutai Barat (Kubar) akan melakukan survei lanjutan yang lebih lengkap untuk memetakan habitat badak dan populasinya di Kutai Barat. Hasil survei itu akan digunakan untuk menyusun strategi bersama serta rencana aksi semua yang terlibat sehingga upaya konservasi badak ini dapat berlangsung jangka panjang dan didukung pendanaannya. Bupati Kubar Ismael Thomas menyatakan berkomitmen melindungi dan menyelamatkan Badak ini melalui Peraturan Daerah (Perda) Perlindungan Fauna dan Flora Langka. Menurutnya, Pemerintah akan membentuk tim yang akan bekerja sama dengan WWF-Indonesia untuk mengkaji dan mempelajari keberadaan satwa ini, untuk menentukan kebijakan, program konservasi yang tepat dan sumber pendanaannya. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026