
Darmadi: Turunnya SBDK Mikro Tergantung dari "Yield"

Jakarta, (Antara) - Direktur Konsumer dan Ritel PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Darmadi Sutanto berpendapat turunnya suku bunga dasar kredit (SBDK) mikro tergantung dari "yield" (imbal hasil) kredit yang dikucurkan. "Dengan adanya transparansi SBDK mikro belum memungkinkan menurunkan suku bunga kredit mikro karena itu tergantung dari imbal hasil kredit yang dikucurkan," kata Darmadi Sutanto saat ditemui usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank BNI di Jakarta, Kamis. Menurut dia, SBDK Bank BNI untuk segmen bisnis tercatat 11,60 persen untuk kredit retail dan mikro serta 10,00 persen untuk kredit korporasi, sedangkan untuk kredit konsumsi tercatat 10,65 persen untuk KPR dan non-KPR sebesar 12,25 persen. Ia mengatakan bahwa adanya peraturan dari Bank Indonesia yang mengharuskan semua bank masuk ke UKM tentu akan ada penambahan penawaran kredit ke sektor tersebut sehingga persaingan akan semakin ketat. Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono mengatakan bahwa tingginya suku bunga kredit mikro harus dilihat satu-satu segmennya. "Secara alami suku bunga kredit mikro tidak akan lebih rendah dari yang lain seperti kredit korporasi maupun kredit konsumsi," ujarnya Menurut dia, lebih rendahnya suku bunga kredit mikro dari yang lain tidak akan terjadi karena biaya dana untuk tabungan mikro lebih mahal. "Struktur dana di setiap bank sangat beragam. Ada yang lebih banyak dana murahnya (tabungan dan giro), ada yang lebih mengandalkan dana mahal (deposito)," ujarnya. Bank-bank berskala menengah dan kecil umumnya mengandalkan pengumpulan dana dari deposito. Untuk memikat deposan, bank-bank ini menawarkan tingkat bunga yang tinggi. Selama bank-bank itu bergantung pada deposito, menurut dia, penurunan suku bunga sulit tercapai. "BPR bayar deposito lebih mahal ketimbang bank umum, orang nagihnya di pasar itu tiap hari, kalau KPR kan sebulan sekali," ujar dia. Sebelumnya, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) memutuskan membagikan dividen Rp113 persaham atau total dividen yang dibagikan sebesar Rp2,114 triliun. "Dividen akan dibayar pada tanggal 16 Mei 2013 kepada para pemegang saham yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham perseroan pada tanggal 1 Mei 2013," kata Direktur Utama BNI, Gatot M. Suwondo, di Jakarta, Kamis. Dia menambahkan dividen yang dibagikan tersebut setara dengan 30 persen dari perolehan laba bersih 2012 sebesar Rp7,046 triliun. Ia melanjutkan, perseroan mengalokasikan 10 persen dari laba bersih atau Rp704,6 miliar untuk cadangan guna mendukung investasi, sedangkan sebesar 5 persen atau senilai Rp 352,3 miliar untuk cadangan umum. Sisa laba bersih tahun buku 2012 yang tidak ditentukan penggunaannya sebesar 55 persen atau senilai Rp3,8 triliun ditetapkan sebagai laba ditahan. Total kredit yang disalurkan oleh BNI sepanjang tahun 2012 mencapai Rp200,7 triliun atau tumbuh sebesar 22,8 persen di atas realisasi kredit pada tahun 2011 yang mencapai Rp163,5 triliun. Dalam mengucurkan kreditnya itu, BNI menjaga agar dana yang mengalir harus mengarah ke sektor yang produktif. Oleh karena itu, pada tahun 2012, sebesar 74 persen dari total kredit BNI disalurkan ke sektor produktif, baik pada segmen korporasi, menengah, kecil, internasional, maupun ritel. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
