Logo Header Antaranews Sumbar

Rakyat Amerika Serikat Terpecah Soal Perang Irak

Selasa, 19 Maret 2013 17:35 WIB
Image Print

Washington, (Antara/AFP) - Hasil jajak pendapat yang dipublis pada Senin, menyebutkan satu dasawarsa sesudah serbuan pimpinan Amerika Serikat terhadap Irak, rakyat negara adidaya itu masih terpecah atas perang tersebut, dengan sebagian besar mempercayainya sebagai kesalahan. Jajak pendapat Gallup, yang pertama sejak pasukan Amerika Serikat mundur dari Irak pada Desember 2011, menunjukkan rakyat negara adidaya itu masih terpecah atas perang tersebut, dengan 53 persen menyatakan menyesali keputusan menyerang itu dan 42 persen menyebutnya bukan kesalahan. Jajak pendapat itu menunjukkan sedikit perubahan dalam pendapat umum sejak survai pada 2009 dan dukungan kuat bagi keputusan menyerang di antara yang mendukung partai Republiken mantan Presiden George W Bush, yang melancarkan perang tersebut. Tentangan terhadap perang itu di antara rakyat Amerika Serikat memuncak pada April 2008, ketika 63 persen menyatakan serbuan tersebut adalah kesalahan. Di antara yang dikenali dengan atau terkait dengan partai Republiken, 66 persen menyatakan perang bukan kesalahan. Tapi, di antara kalangan Demokrat, 73 persen menyatakan serbuan itu adalah kesalahan. Jajak pendapat Gallup itu didasarkan atas wawancara telepon dengan 1.022 orang dewasa pada 7-10 Maret. Tingkat kesalahan lebih kurang empat persen. Pemerintahan Bush melancarkan serbuan ke Irak dengan alasan Presiden Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah dan perlu dilucuti. Senjata pemusnah seperti itu tidak pernah ditemukan. Serbuan Amerika Serikat ke Irak menggulingkan Saddam Hussein untuk mengabadikan demokrasi liberal di jantung Tengah Timur itu menghasilkan kekerasan aliran dan perselisihan politik tak berkesudahan. Saat diluncurkan sedasawarsa lalu dengan tujuan memusnahkan senjata pemusnah milik Saddam, yang tak pernah ditemukan, pusat perpecahan perang cepat bergeser ke memperkuat Irak sebagai sekutu Barat di wilayah goyah tersebut. Tapi, penggulingan Saddam memberikan Iran, tetangga bukan Arab Irak, kesempatan untuk secara tajam meningkatkan pengaruh di negara itu, dengan alasan mendua, kata diplomat Barat. "Ada alasan dibuat-buat, yakni senjata pemusnah, kaitan dengan Al Qaida, dan ancaman keamanan Amerika Serikat," kata Crispin Hawes, direktur Timur Tengah dan Afrika Utara kelompok penasehat Eurasia Group, yang berpusat di London. "Hal itu terlihat menggelikan sekarang," katanya. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026