
BKSDA Jambi Lelah Tangani Konflik Harimau-Manusia

Jambi, (Antara) - Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alama (BKSD) Jambi, Tri Siswo Raharjo, Rabu (13/3) menyatakan konflik harimau dengan manusia di Jambi kali ini sangat melelahkan pihaknya. Menurut dia, untuk menangani persoalan tersebut, pihaknya kali ini terpaksa mendatangkan pakar harimau dari berbagai daerah untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut. "Kami belum tahu pasti apa penyebab harimau masuk kampung kali ini. Biasanya harimau berada di hutan, kampung mereka," katanya. "Konflik kali ini panjang dan melelahkan, sampai kita datangkan pakar harimau dari berbagai daerah untuk membantu menyelesaikan masalah ini, mudah-mudahan kita akan menemukan jawaban atas masalah ini," tandasnya. Kelelahan BKSDA juga semakin terasa sebab, dari banyaknya laporan warga yang masuk soal keberadaan harimau, 70 persen diantaranya hanya laporan yang disertai rasa takut atau phobia, sehingga kebenarannya tidak adapat dipastikan. Seperti hari ini (13/3), kata Tri, pihaknya kembali mendapat laporan keberadaan harimau yang sudah meresahkan warga Jambi itu di dua lokasi yang berbeda. Saat in harimau dilaporkan berada di kawasan Sungai Bahar, Kabupaten Batanghari dan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. "Menyikapi laporan ini, BKSDA Jambi telah menurunkan tim ke lokasi. Laporan terakhir tadi, harimau dikatakan berada di kawasan Sungai Bahar dan KM 73 Merlung, Tungkal Ulu," katanya. Namun hingga berita ini diturunkan, Tri Siswo mengaku belum mendapat soal kepastian laporan itu. "Yang jelas kami akan menyikapi laporan dari warga, dan hingga saat ini sang harimau belum berhasil kita tangkap, meski telah 2 kali kita tembak dengan obat bius," katanya. Diakui Trisiswo, konflik harimau di daerah tersebut telah menjadi semacam phobia bagi masyarakat Jambi. Sehingga ketika melihat sesuatu yang agak ganjil, warga biasanya langsung menyebut itu sebagai harimau. Padahal belum tentu. "Hanya 30 persen laporan warga soal harimau yang benar, 70 persen lainnya hanya prasangka berdasarkan rasa takut dan phobia. Sebab ketika dicek ke lapangan ternyata hewan lain, seperti Tapir," terangnya. Uniknya, kata Tri, malah ada warga yang membuat jejak harimau palsu, tanpa ditahui apa maksud dari tindakan itu. "Tapi, ini kan menimbulkan kekhawatiran yang luar biasa dalam masyarakat," ujarnya. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
