Logo Header Antaranews Sumbar

Harga Minyak Dunia Berakhir Bervariasi

Selasa, 12 Maret 2013 07:01 WIB
Image Print

New York, (Antara/AFP) - Harga minyak dunia berakhir bervariasi pada Senin (Selasa pagi WIB), karena pasokan tetap kuat dan produksi industri di China menunjukkan tanda-tanda perlambatan, mengindikasikan kemungkinan melemahnya permintaan energi, kata para analis. Di perdagangan New York, minyak mentah acuan light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April naik 11 sen dari penutupan Jumat (8/3) menjadi berakhir pada 92,06 dolar AS per barel. Sementara di perdagangan London, minyak mentah Brent North Sea untuk April turun 63 sen menjadi menetap pada 110,22 dolar AS per barel. Kontrak AS mengikuti Brent lebih rendah untuk sebagian besar sesi sebelum kembali naik pada akhir sesi, dengan "mood" (suasana hati) masih untuk pasar yang sedikit "memerah". "Pasar minyak mentah kembali cenderung menurun pada perdagangan Senin karena produksi industri China jatuh jauh dari harapan dan Arab Saudi melaporkan memproduksi minyak lebih banyak pada Februari daripada bulan sebelumnya," kata Tim Evans dari Citi Futures. "Situasi pasokan telah meningkat lagi, dan jumlah persediaan minyak mentah AS secara musiman sangat tinggi serta memperlihatkan peningkatan lagi pada minggu lalu," kata analis komoditas di UniCredit. "Namun demikian, kami juga mengharapkan penguatan pada sisi permintaan, karena ekonomi global diperkirakan mendapatkan beberapa traksi tahun ini." Data ekonomi lebih lemah di China mendorong penurunan harga minyak pada awal sesi perdagangan. Data resmi yang dirilis Sabtu (9/3), memperlihatkan inflasi di China mencapai tertinggi 10-bulan pada Februari. Produksi industri, yang mencerminkan produksi di pabrik-pabrik, bengkel kerja dan tambang China, naik 9,9 persen tahun-ke-tahun selama dua bulan pertama 2013, dibandingkan dengan 11,4 persen pada periode yang sama 2012. "Sebagian besar data ekonomi China yang diterbitkan pada akhir pekan terbukti mengecewakan. Hal ini menggambarkan bagaimana pelaku pasar saat ini fokus pada informasi negatif dan sentimen pasar yang buruk," kata analis Commerzbank Carsten Fritsch. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026