Di Solok ada balapan mesin bajak sawah

id balapan mesin bajak

Balapan mesin bajak sawah di Solok , Sabtu (27/4) (Antara Sumbar/Tri Asmaini)

Solok, (ANTARA) - Pemerintah Kota Solok kembali menggelar balapan mesin bajak sawah yang diberi nama Basikakeh Roda Basi sebagai upaya mengembangkan agrowisata di daerah itu.

Wali Kota Solok, Sumatera Barat Zul Elfian melalui Asisten I bidang Ekonomi dan Pemerintahan Jefrizal di Solok Sabtu mengatakan lomba pacu mesin bajak ini merupakan yang ketiga kali sejak 2017, namun tetap diminati dan semakin ramai dikunjungi masyarakat.

Dalam satu lintasan lomba pacu mesin bajak, diikuti tiga atau empat orang yang membawa traktor bajak. Peserta tidak boleh melepaskan tangan dari traktor, semua peserta hanya boleh mengikuti satu kali lomba.

Peserta juga tidak boleh menyentuh pembatas jalur pacu, juri akan menghentikan pertandingan jika ada gangguan yang merusak kualitas lomba.

Lomba basi kakeh roda basi digelar dalam dua periode yaitu dengan bajak singka dan periode kedua dengan bajak kura-kura.

Menurutnya lomba pacu mesin bajak ini digelar untuk menggairahkan dan menghidupkan kawasan agrowisata Sawah Solok yang semakin dikenal masyarakat.

Jadi, kawasan agrowisata Solok tidak hanya indah dengan pemandangannya saja, tetapi hidup dengan adanya kegiatan seperti perlombaan mesin bajak tersebut.

"Kota Solok yang tidak begitu banyak tempat wisata harus memaksimalkan pengelolaan di beberapa wisata yang ada, sehingga meningkatkan kunjungan wisatawan ke Solok," sebutnya.

Pemerintah juga berharap nantinya dinas pariwisata, pertanian dan lainnya mendukung setiap kegiatan seni dan budaya yang diadakan masyarakat atau komunitas sehingga menggairahkan pariwisata setempat.

Lomba mesin bajak ini juga untuk meningkatkan rasa kebersamaan warga tani dan masyarakat sehingga bergembira dan bersuka cita bersama.

Masyarakat juga dapat mengambil hikmah dari kegiatan ini, karena selain untuk menunjukkan sawah yang subur, kegiatan ini juga bentuk syukur setelah panen.



Kegiatan "Basikakeh roda basi" juga dimeriahkan "pacu baluik" atau lomba memindahkan belut dari satu ember ke ember yang lain yang diikuti para bundo kandung setempat.

Sementara Ketua DPRD Solok, Yutris Chan mengatakan lomba ini menggambarkan bagaimana petani mengolah sawah dengan penuh semangat.

"Ini juga wujud syukur dan kepedulian bundo kanduang, serta ninik mamak akan tradisi dan kesenian daerah," ujarnya.

Ia mengapresiasi ide dari masyarakat dengan lomba ini. Sebelumnya sudah ada "basipeteang" atau jelajah alam dengan motor antik, "basilanja" atau lomba pacu kuda. Pihaknya mencoba memakai bahasa daerah yang mulai tergerus oleh zaman sehingga memancing generasi muda ikut menyaksikan.

Ia berharap kegiatan ini memunculkan ide lain yang lebih kreatif agar Kota Solok semakin dikenal dan akan berefek pada peningkatan ekonomi masyarakat.

Pewarta :
Editor: Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar