Logo Header Antaranews Sumbar

Penyerang Bunuh Penyelenggara Protes di Irak Utara

Senin, 11 Maret 2013 06:57 WIB
Image Print

Kirkuk, Irak, (Antara/AFP) - Sejumlah orang bersenjata membunuh seorang penyelenggara protes anti-pemerintah di Irak utara, Minggu, sementara seorang anggota dewan kota dan seorang petani ditembak mati dalam serangan-serangan lain, kata polisi dan dokter. Orang-orang bersenjata tak dikenal membunuh penyelenggara protes Bnayan Sabar al-Obeidi di depan rumahnya di kota Kirkuk, Irak utara, kata mereka. Pemrotes turun ke jalan di daerah-daerah berpenduduk mayoritas Sunni di Irak selama lebih dari dua bulan untuk menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Nuri al-Maliki dan mengecam pentargetan minoritas Sunni oleh pihak berwenang yang dipimpin Syiah. Obeidi tewas dua hari setelah aktivis menyatakan bahwa pasukan keamanan menembaki demonstran di Mosul, juga di Irak utara, yang menewaskan sedikitnya satu pemrotes dan mencederai beberapa lain. Menteri Pertanian Irak Ezzedine al-Dawleh mengundurkan diri setelah pembunuhan di Mosul itu dengan mengatakan, "tak ada gunanya saya terus berada di pemerintahan yang tidak menanggapi tuntutan" rakyat. Ia adalah menteri kedua dari kubu sekular, Blok Iraqiya dukungan Sunni, yang berselisih dengan Maliki, yang mengundurkan diri bulan ini. Juga Minggu, orang-orang bersenjata membunuh Abdul Monam Mohammed, seorang anggota dewan kota di Heet, sebelah baratlaut Baghdad, sementara penyerang bersenjata lain membunuh seorang petani dan ledakan bom pinggir jalan mencederai tiga orang di dekat Baquba, sebelah utara ibu kota Irak tersebut, kata polisi dan dokter. Kekerasan itu merupakan yang terakhir dari gelombang pemboman dan serangan bunuh diri di tengah krisis politik antara Perdana Menteri Nuri al-Maliki dan mitra-mitra pemerintahnya dan pawai protes selama beberapa pekan yang menuntut pengunduran dirinya. Sepanjang Februari, 220 orang tewas dalam kekerasan di Irak, menurut data AFP yang berdasarkan atas keterangan dari sumber-sumber keamanan dan medis. Irak dilanda kemelut politik dan kekerasan yang menewaskan ribuan orang sejak pasukan AS menyelesaikan penarikan dari negara itu pada 18 Desember 2011, meninggalkan tanggung jawab keamanan kepada pasukan Irak. Selain bermasalah dengan Kurdi, pemerintah Irak juga berselisih dengan kelompok Sunni. Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki (Syiah) sejak Desember 2011 mengupayakan penangkapan Wakil Presiden Tareq al-Hashemi atas tuduhan terorisme dan berusaha memecat Deputi Perdana Menteri Saleh al-Mutlak. Keduanya adalah pemimpin Sunni. Pejabat-pejabat Irak mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi Wakil Presiden Tareq al-Hashemi pada 19 Desember 2011 setelah mereka memperoleh pengakuan yang mengaitkannya dengan kegiatan teroris. Puluhan pengawal Hashemi, seorang pemimpin Sunni Arab, ditangkap dalam beberapa pekan setelah pengumuman itu, namun tidak jelas berapa orang yang kini ditahan. Hashemi, yang membantah tuduhan tersebut, bersembunyi di wilayah otonomi Kurdi di Irak utara, dan para pemimpin Kurdi menolak menyerahkannya ke Baghdad. Pemerintah Kurdi bahkan mengizinkan Hashemi melakukan lawatan regional ke Qatar, Arab Saudi dan Turki. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026