
Presiden Chad Konfirmasi Komandan Aqim Tewas di Mali

N'Djamena, (Antara Sumbar) - Presiden Chad Idriss Deby Itno, Jumat (1/3), mengkonfirmasi tentaranya telah menewaskan Abdelhamid Abou Zeid, seorang komandan cabang Al Qaida di Afrika Utara (AQIM). Presiden tersebut mengatakan tentara Chad menewaskan Abou Zeid dan seorang lagi komandan AQIM pada 22 Februari dalam pertempuran di wilayah pegunungan Ifogha di Mali utara. Konfirmasi itu disampaikan satu hari setelah stasiun televisi Aljazair, Ennahar, melaporkan komandan AQIM kelahiran Aljazair tersebut dan 40 petempurnya tewas di Mali utara, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu pagi. Pada Ahad (24/2), militer Chad menyatakan 93 gerilyawan tewas dalam operasi di Mali utara dan 23 prajurit Chad juga tewas. Chad, yang telah mengerahkan 2.000 prajurit ke Mali bersama dengan ribuan prajurit lain dari blok Afrika Barat, ECOWAS, diharapkan memainkan peran penting dalam operasi militer di Mali, setelah Prancis berencana menarik tentaranya pada April. Pekan lalu, Perdana Menteri Mali Diango Cissoko mengumumkan operasi militer berskala besar di negerinya "akan berakhir". Kematian Abou Zeid, yang telah membuat AQIM memperoleh puluhan juta dolar AS melalui serangkaian penculikan orang Barat di Sahara selama lima tahun belakangan, merupakan peristiwa penting tapi bukan pukulan mematikan bagi kelompok itu, kata kantor berita Inggris, Reuters. Tokoh lain AQIM, Mokhtar Belmokhtar --pria bermata satu yang menjadi otak penyanderaan massal di instalasi gas In Amenas di Aljazair pada Februari-- masih berkeliaran. Juga masih ada pemimpin Tuareg Iyad ag Ghali, yang pekan ini dimasukkan ke dalam daftar "teroris" global AS. Beberapa sumber yang dekat dengan gerilyawan dan tetua suku sebelumnya mengatakan Abou Zeid --yang dituding sebagai dalang penculikan sedikitnya 20 warganegara Barat di Sahara-- termasuk di antara 40 gerilyawan yang tewas dalam beberapa hari belakangan di kaki gunung Adrar des Ifoghas. Abou Zeid, mantan penyelundup yang beralih jadi mujahid, dipandang sebagai salah seorang pelaksana paling kejam AQIM. Ia diduga telah menghukum mati sandera Inggris Edwin Dyer pada 2009 dan warganegara Prancis yang berusia 78 tahun, Michel Germaneau pada 2010. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
