Menanam harapan di laut Pariaman

id Taman Terumbu Karang,Terumbu Karang Pariaman,Pertamina

Taman terumbu karang di Laut Pariaman. (Dok. TDC)

Di Pantai itu, badai datang dari timur laut, sementara kapal mereka sudah lebih dulu berangkat ke situ, membawa rangkaian-rangkaian besi dan substrat untuk ditanam di laut Pariaman.

Kota Pariaman, kota yang berada di pantai arah utara Kota Padang, Sumatera Barat itu, berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.

Saat musim penghujan, badai sering datang tidak menentu, kadang pagi, kadang sore, kadang malam.

Tapi beruntung, kota itu memiliki empat gugusan pulau yang sering dimanfaatkan nelayan untuk menepikan perahunya saat badai. Pulau itu adalah pulau Ujuang, Tangah, Ansoduo, dan Pulau Kasiak.

Aksa Prawira (25), anak nelayan yang kini memimpin komunitas selam dan lingkungan itu, sudah bolak-balik ke laut untuk memindahkan rangkaian "Reef Garden" atau taman terumbu karang, dari darat ke dalam laut.

Aksa bersama timnya Tabuik Diving Club (TDC), memasukan satu per satu rangkaian besi-besi itu ke dalam perairan yang berada di antara Pulau Ujuang dan Pulau Tangah, Pariaman.

Rangkaian besi berbentuk terowongan setengah lingkaran dengan total panjang 25 meter itu nantinya akan menjadi taman terumbu karang.

"Kita melakukan transplantasi terumbu karang di terowongan itu sebanyak 2.500 substrat (media terumbu karang)," kata Aksa.

Meskipun demikian, adanya taman tersebut, kata Aksa, tidak semata-mata datang begitu saja, karena prosesnya cukup panjang.

"Badai sering menjadi kendala, akhirnya kami tunda untuk melakukan penanaman," katanya.

Aksa menjelaskan, pembuatan taman terumbu karang itu dilakukan pada tahun 2017, membutuhkan waktu empat bulan, hingga taman tersebut diletakan tujuh meter di dalam laut.

Dampaknya, kata dia, tahun ini sudah bisa dilihat, yakni dengan banyaknya ikan-ikan kecil yang bermain di taman tersebut.

Pembuatan taman terumbu karang, katanya, merupakan bantuan Coorporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina (Persero) Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Bandara Internasional Minangkabau (BIM) senilai Rp 200 juta.

Aksa melanjutkan, menurut orangtuanya, dulu, di perairan Pariaman itu banyak ikan yang bisa ditangkap di balik karang-karang.

Namun belakangan ini, katanya, ikan justru sulit dicari, karena ada juga oknum nelayan yang menangkap ikan menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan.

"Kadang ada yang menggunakan pukat, pemberatnya tersangkut di karang sehingga secara tidak sengaja merusak karang itu," katanya.

Selain itu, Aksa melanjutkan, ada juga yang menggunakan bom dan putas untuk menangkap ikan, tapi sekarang sudah jarang ditemui.

Ia berharap, masyarakat sadar pentingnya terumbu karang dan sama-sama menjaganya.

Kondisi Terumbu Karang

Sementara itu, Pegiat Lingkungan Pesisir Laut Pariaman, Tomi Syamsuar menyatakan, kondisi terumbu karang di perairan Pariaman rusak berat.

"Kenapa ikan sudah mulai sulit di perairan Pariaman, karena kondisi terumbu karangnya rusak," kata Tomi.

Akibatnya, nelayan harus mencari ikan ke tengah laut, jauh dari daratan, katanya.

Ia menjelaskan, proses pemutihan terumbu karang atau "bleaching" mulai terjadi sejak 2016.

Salah satu penyebabnya, kata dia, adalah kenaikan suhu perairan di Indonesia akibat pemanasan global dan El Nino.

"Pemutihan terumbu karang ini diperparah dengan praktik penangkapan ikan secara ilegal menggunakan bom," katanya.

Data Pemerintah Kota Pariaman, sebanyak 50 persen terumbu karang di kawasan itu rusak penangkapan ikan tak ramah lingkungan dan pemutihan koral.

Menurut data itu, hanya tersisa 10 persen luas terumbu karang yang masih sehat dan berkualitas.

Oleh karena itu, kata Tomi, yang dilakukan Tabuik Diving Club dengan membuat Taman Terumbu Karang tersebut, katanya, sama dengan menyelamatkan ekosistem laut.

"Laut ada sumber kehidupan, sumber ekonomi, dan juga bisa menjadi objek pariwisata dengan adanya taman terumbu karang," jelasnya.

Menurutnya, sekarang sudah dapat ditemui "Schooling fish" atau gerombolan ikan di taman terumbu karang tersebut, menandakan tempat itu baik untuk biota laut.

"Sekarang harusnya kita jaga bersama, termasuk masyarakat nelayan harus paham bahwa yang dibuat Tabuik Diving Club itu akan bermanfaat untuk nelayan, untuk Pariaman," jelasnya.

Sosialisasi ke Masyarakat

Tomi menegaskan, saat Tabuik Diving Club sudah melakukan pembuatan dan penanaman di taman terumbu karang itu, tantangan yang terberat adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat.

"Karena masyarakat nelayan juga banyak yang belum tahu, sehingga mereka merasa lokasi Taman Terumbu Karang itu tetap bisa sebagai lokasi mereka mencari ikan, padahal kan ini baru membangun," katanya.

Saat itulah, katanya, jangkar kapal nelayan yang dilepaskan malah merusak taman tersebut.

"Karena itu, sosialisasi lebih luas diperlukan dan juga regulasi dari pihak yang memiliki kebijakan, agar upaya pelestarian ekosistem laut tetap berlangsung," tambahnya.

Kerusakan itu juga diakui Aksa. Ia mengakui, ada kerusakan taman akibat jangkar nelayan, serta hilangnya pelampung sebagai tanda bahwa di bawahnya ada taman terumbu karang.

"Pelampung setiap dipasang, hilang. Mungkin ada oknum nelayan yang mencari ikan di sini, agar tidak diketahui orang, bahwa banyak ikan di sini, maka dihilangkan pelampung itu," katanya.

Aksa pun berpikir, mungkin tindakan merusak menggunakan jangkar dan menghilangkan tanda itu dilakukan secara tidak sengaja.

Pihaknya juga akan terus melakukan sosialisasi lebih luas kepada masyarakat serta monitoring agar upaya melestarikan ekosistem laut tersebut terus terjaga.

Lestarikan Penyangga Kehidupan Laut

Selain terumbu karang, Tabuik Diving Club melalui bantuan CSR PT Pertamina juga membangun jalur tracking manggrove di kawasan hutan bakau Desa Apar, Pariaman.

"Dalam hal lingkungan ini, Pertamina sangat peduli dan terus mendukung kami, seperti bantuan Taman Terumbu Karang dan jalur manggrove, semoga kerja sama ini terus berkelanjutan," katanya.

Awalnya TDC mengajukan proposal permohonan bantuan kepada Pertamina untuk pengembangan hutan bakau itu.

"Proposal yang diajukan tersebut untuk pengembangan hutan bakau pada 2018, namun pihak Pertamina DPPU Minangkabau mengabulkan pada 2017," ujar dia.

Aksa mengatakan konsep jalur hutan bakau yang dibuat tersebut sepanjang 50 meter dengan lebar 1,5 meter di area seluas kurang lebih satu hektare.

Pembangunan jalur hutan bakau tersebut, sejalan dengan pembangunan taman terumbu karnag, yakni sebagai penyelamatan lingkungan sekaligus destinasi wisata alam terbaru.

Dari awal, kata Aksa, sudah 100 ribu bibit bantuan beberapa pihak yang sudah ditanam dan 80 persen hidup semuanya di atas lahan sekitar 10 hektare itu.

Sejak dibangunnya jalur tracking manggrove, kata Aksa, banyak warga berdatangan untuk sekedar melihat maupun berwisata bersama keluarga.

Sementara itu, Operation Head Terminal Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Minangkabau, PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) I, Abdul Muis mengatakan, pihaknya menyalurkan dana sebesar Rp285 juta untuk melanjutkan pengembangan jalur pejalan kaki atau di kawasan hutan bakau itu.

"Kami fokus membantu kawasan ini menjadi lebih besar dan menarik wisatawan datang ke lokasi ini sehingga berdampak bagi masyarakat dan lingkungan," katanya.

Menurutnya, salah satu cara menikmati kawasan mangrove dengan cara membuat tempat pejalan kaki sehingga pengunjung dapat masuk menikmati dan mempelajari hutan tesebut.

Sebelumnya Pertamina telah membuat jalur pejalan kaki sepanjang sepanjang 50 meter dengan lebar 1,5 meter dengan dana CSR sebesar Rp350 juta.

Kemudian, membangun taman terumbu karang sebagai upaya pelestarian ekosistem laut dan penyelamatan lingkungan di daerah itu.

Kelak, kata Aksa, jika dua kegiatan tersebut berkelanjutan, laut Pariaman akan berlimpah ikan dan nelayannya sejahtera. Sedangkan di daratan, warga terjaga dari ombak besar dan abrasi karena hutan mangrove yang rimbun. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar