Sawahlunto Miliki Wayang Perpaduan Kebudayaan Jawa-Minangkabau

id wayang

Beberapa karakter tokoh Wayang Sawahlunto yang merupakan perpaduan antara kebudayaan Jawa dan Minangkabau. (Antara Sumbar/ Syahrul Rahmat/ 17)

Padang, (Antara Sumbar) - Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, memiliki kesenian Wayang Sawahlunto yang merupakan perpaduan antara kebudayaan Jawa dengan Minangkabau sebagai kesenian spesifik daerah itu.

Kepala Dinas Kebudayaan Peninggalan Sejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto, Hendri Thalib saat dihubungi dari Padang, Selasa, mengatakan keberadaan Wayang Sawahlunto merupakan bentuk kepedulian para seniman dan pemerintah terhadap kesenian yang ada.

"Pemberdayaan komunitas wayang yang ada di Sawahlunto sudah dimulai semenjak tahun 2007," tambahnya.

Ia menyebutkan Wayang Sawahlunto memiliki keunikan tersendiri dibanding wayang yang ada di Jawa pada umumnya, karena adanya percampuran antara budaya Jawa dan Minangkabau.

Keunikan tersebut seperti dari segi cerita pewayangan, karakter tokoh, dan pakaian.

Untuk memperkenalkan wayang kepada masyarakat pihaknya juga menggelar Festival Wayang Nusantara Kota Sawahlunto yang juga mengikutkan wayang dari luar daerah.

Salah seorang seniman, Sujiman menyebutkan perpaduan dua kebudayaan pada Wayang Sawahlunto terlihat pada beberapa bagian, mulai dari tokoh, cerita dan pakaian tokoh dalam wayang.

Ia menjelaskan karakter wayang Jawa seperti Semar, Petruk, Gareng dan lainnya tetap ada pada Wayang Sawahlunto, akan tetapi karakter-karakter tersebut diberi pakaian yang mencirikan Minangkabau.

Pada gunungan wayang juga memperlihatkan ciri khas Sawahlunto, terlihat dengan adanya unsur-unsur gonjong rumah gadang serta gambar lombang tambang Mbah Suro.

Selain itu juga ada penambahan beberapa karakter, seperti Mbah Suro, orang-orang rantai serta ulama.

"Cerita yang dimainkan bukan lagi cerita tentang pewangan Jawa lagi akan tetapi memainkan cerita tentang sejarah tambang yang ada di Sawahlunto," lanjutnya.

Ia menambahkan saat ini kesenian wayang tidak hanya dipelajari oleh anak-anak keturunan Jawa, akan tetapi anak-anak Minangkabau maupun Batak juga ikut mempelajarinya.

"Kami tidak pernah membatasi siapa saja yang bisa mempelajari wayang, siapa saja boleh ikut," katanya.(*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar