Logo Header Antaranews Sumbar

60 Ton Pisang Sebatik Dipasarkan ke Malaysia Per Hari

Sabtu, 9 Februari 2013 10:26 WIB
Image Print

Nunukan, (Antara) - Sekitar 50- 60 ton pisang produksi petani Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur dipasarkan setiap hari ke Tawau, Malaysia. Besarnyan jumlah produksi pisang di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia itu karena kondisi lahan yang sangat subur dan berbukit yang memang sangat tepat untuk pengembangan tanaman pisang, kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Kabupaten Nunukan, Subandi SP di Nunukan, Sabtu. Subandi menjelaskan lahan pengembangan tanaman pisang di Pulau Sebatik merupakan yang terbesar di Kabupaten Nunukan sehingga selama ini wilayah itu kelebihan produksi dibandingkan dari kebutuhan sehingga petani memasarkan ke luar (Malaysia). "Kita sudah surplus pisang. Jadi petani dan pedagang di Sebatik itu memilih menjualnya ke sebelah (Tawau-Malaysia)," ujar Subandi. Subandi menyebutkan jenis pisang yang banyak dikembangkan di Pulau sebatik adalah jenis kepok kuning yang merupakan jenis yang banyak diminati masyarakat lokal maupun luar negeri. Pisang-pisang tersebut di angkut dengan menggunakan perahu bermesin yang berlangsung setiap hari di Desa Ajikuning dan Lalosalo dengan jumlah yang sangat besar, katanya. "Pengangkutan pisang ke sebelah (Malaysia) berlangsung setiap hari dalam jumlah yang cukup besar," katanya. Malaysia yang menjadi sasaran pemasaran pisang kepok kuning asal Pulau sebatik, karena antara kedua pulau yang berbatasan ini jangkauannya cukup singkat dalam artian tidak membutuhkan biaya operasional yang besar. Harga dipermainkan Walaupun, laris diakuinya, petani atau pedagang pisang seringkali mengeluhkan harga pembelian pengepul pisang di Tawau yang seenaknya mempermainkan harga. Hal ini pernah disampaikan salah seorang pedagang pisang di Pulau Sebatik bahwa berdagang pisang ke Tawau terpaksa dilakukannya karena tidak adanya sasaran pemasaran lainnya walaupun seringkali mengalami kerugian akibat membusuk. "Daripada membusuk, lebih baik jual murah. Kalau mau bertahan dengan harga yang kita inginkan pedagang di Tawau bertahan tidak mau membelinya," ucapnya. Subandi juga menyadari hal itu, tetapi tidak memiliki kewenangan soal harga. Namun produksi pisang yang semakin meningkat di Kabupaten Nunukan sehingga tidak mengkhawatirkan kebutuhan masyarakat tidak terpenuhi. Keuntungan yang diperoleh dari pemasaran pisang asal Pulau Sebatik ke Tawau adalah ketersediaan jeruk di Malaysia itu karena ketersediaan di Sebatik,Nunukan masih sangat kurang. "Jadi kita jual pisang kesana (Malaysia) pulangnya pedagang membawa jeruk dari Tawau untuk kebutuhan masyarakat sini (Nunukan). (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026