
Politisi PPP: Masyarakat Cenderung "Alergi" Pada Parpol

Jakarta, (Antara) - Politisi dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Lukman Hakim Saifuddin berpendapat ada kecenderungan masyarakat bersikap "alergi" atau tidak menyukai partai politik (parpol) akibat tindakan buruk yang dilakukan oleh beberapa elit politik. "Era reformasi dan segala keterbukaannya dan proses demokratisasi, sepertinya menyebabkan partai berada pada citra yang buruk sehingga ada semacam 'phobia' pada parpol. Masyarakat itu seringkali 'alergi' terhadap partai mungkin karena masalah internal elit partai yang mengecewakan masyarakat," kata Lukman di Jakarta, Jumat. Hal tersebut, menurut dia, membuat partai politik sulit untuk memilih dan menentukan kader-kader terbaiknya untuk dimajukan sebagai calon anggota legislatif (caleg). "Jadi, sekarang ini kapasitas personal saja tidak cukup untuk membuat seseorang terpilih oleh masyarakat menjadi caleg, dan ada tantangan bagi setiap parpol untuk memajukan caleg yang terbaik bagi masyarakat," ujarnya. Oleh karena itu, dia berpendapat bahwa masyarakat perlu diberi pembinaan atau pengertian agar bila ada pengurus atau elit partai politik yang berperilaku 'menyimpang', masyarakat tidak melemparkan kesalahan itu kepada partai politik. "Jangan sampai partai sebagai institusi yang dihujat karena anggotanya yang tidak benar. Dimanapun pasti selalu ada orang-orang yang baik dan yang buruk," katanya. Dia menambahkan, bagaimanapun, masyarakat tidak dapat menafikkan eksistensi partai politik dalam kancah demokrasi. Dia juga menyarankan agar masyarakat dapat dengan cermat memilih caleg yang tepat yang diajukan oleh parpol sebagai kandidat-kandidat yang akan 'duduk' di parlemen. "Di negara manapun di dunia, parlemen itu adalah gambaran dari masyarakat secara keseluruhan. Apalagi di Indonesia yang sistem DPR nya melalui proses pemilihan langsung oleh suara terbanyak masyarakat," kata Lukman. "Jadi, sekarang ini masyarakat 100 persen menentukan siapa saja yang bisa menjadi anggota DPR. Tentulah setiap parpol ingin mengirimkan calon yang terbaik, namun akhirnya rakyat juga yang menentukan," tambahnya. Sementara itu, pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi mengatakan, partai-partai politik harus mulai bersiap mencari orang-orang yang dianggap bisa memenuhi aspirasi pemilih, jika tidak ingin gagal pada Pemilu Legislatif 2014. Menurut dia, saat ini partai politik harus mulai merekrut pejabat publik yang baik, dan untuk pemilihan legislatif, parpol harus mengidentifikasi apakah kadernya memenuhi kualifikasi dan kapasitas sebagai caleg. "Kalau tidak memenuhi cobalah untuk merekrut caleg dari luar partai karena sejauh ini calon yang disodorkan partai sering tidak sesuai dengan hati nurani pemilih. Sinyal yang demikian harusnya ditangkap oleh partai untuk mencari caleg alternatif, jika tidak pilihannya cukup sulit," kata Burhanuddin. "Bisa saja pemilih akan terpaksa golput karena pilihan caleg yang buruk, dan ini merupakan hal buruk untuk konsolidasi demokrasi," tambahnya. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
