Logo Header Antaranews Sumbar

BI Perkirakan Inflasi Sumbar 2017 4,7 Persen

Kamis, 12 Januari 2017 19:33 WIB
Image Print
Kepala Perwakilan BI Sumbar, Puji Atmoko. (Antara)

Padang, (Antara Sumbar) - Bank Indonesia (BI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) memperkirakan laju inflasi di provinsi itu pada 2017 mencapai 4,3 persen hingga 4,7 persen atau lebih rendah dibandingkan 2016 yang mencapai 4,89 persen.

"Inflasi dari kelompok pangan bergejolak diperkirakan sedikit turun dengan semakin intensifnya program yang digulirkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dalam mengendalikan harga," kata Kepala BI perwakilan Sumbar, Puji Atmoko di Padang, Kamis.

Menurutnya pengoperasian gedung pengendali inflasi dan toko tani Indonesia serta program sejuta cabai diharapkan mampu menjadi pendorong turunnya laju inflasi dari kelompok pangan bergejolak.

Selain itu potensi peningkatan harga minyak dunia akan berimplikasi terhadap kebijakan energi strategis ke depan, katanya.

Berlanjutnya reformasi subsidi memberikan ruang terhadap potensi penyesuaian kenaikan harga barang dan jasa yang diatur pemerintah seperti tarif dasar listrik dan harga gas elpiji, lanjutnya.

Sementara pada 2016 secara spasial inflasi Sumbar disumbang oleh pergerakan harga di Kota Padang dan Bukittinggi yang masing-masing secara bulanan tercatat inflasi 0,07 persen dan deflasi 0,57 persen.

"Pada 2016 Kota Padang tercatat sebagai kota dengan laju inflasi tertinggi ke-75 dan Kota Bukittinggi dengan deflasi terdalam ke-2 dari 82 kota sampel inflasi di seluruh Indonesia," katanya.

Ia mengatakan laju deflasi kelompok pangan bergejolak sedikit tertahan dengan kenaikan harga komoditas beras dan telur ayam ras.

Kenaikan harga beras dipicu oleh terganggunya proses penjemuran gabah dalam musim penghujan, sementara itu, kenaikan harga telur ayam ras dipicu oleh tingginya permintaan menjelang liburan akhir tahun, jelasnya.

Namun demikian, andil beras dan telur ayam ras relatif kecil dalam mendorong inflasi bulanan Sumbar yaitu sebesar 0,06 persen dan 0,02 persen .

Selain itu kenaikan harga tiket pesawat karena tingginya permintaan menjelang liburan akhir tahun serta kenaikan harga rokok kretek juga berkontribusi terhadap peningkatan inflasi, katanya.

Sebelumnya Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno meminta bupati dan wali kota mempelopori pengembangan cabai di pekarangan rumah masyarakat sebagai salah satu solusi mengatasi kelangkaan stok dalam rangka menekan laju inflasi.

"Saya minta kepala daerah membantu siapkan bibit, bagikan 10 sampai 20 batang untuk ditanam di pekarangan masyarakat, jika semua kabupaten kota melakukan akan mencegah terjadinya kelangkaan cabai," kata dia.

Ia menerangkan untuk memenuhi kebutuhan cabai Sumbar jika hanya mengandalkan dari petani tidak memungkinkan karena hasil produksi selama ini merupakan kategori baik dan lebih banyak dipasarkan ke luar provinsi.

Petani tentu juga ingin untung, kalau dijual ke luar provinsi harga lebih tinggi karena itu sulit mempertahakan cabai lokal untuk dipasarkan di Sumbar, katanya. (*)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026