Logo Header Antaranews Sumbar

Kinerja Perdagangan Sumbar Triwulan III Melambat

Selasa, 27 Desember 2016 13:46 WIB
Image Print
Bank Indonesia (BI). (Antara)

Padang, (Antara Sumbar) - Bank Indonesia (BI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mencatat kinerja lapangan usaha perdagangan di provinsi itu pada triwulan III 2016 mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya.

"Melambatnya aktivitas perdagangan pada triwulan III 2016 merupakan imbas dari kebijakan penghematan belanja pemerintah daerah," kata Kepala BI perwakilan Sumbar Puji Atmoko di Padang, Selasa dalam Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional triwulan III 2016.

Menurut dia meningkatnya biaya operasional pelaku usaha yang dipicu kenaikan harga Tarif Tenaga Listrik (TTL) turut mendorong perlambatan kinerja lapangan usaha perdagangan.

Kondisi ini tercermin dari melambatnya jumlah dan pertumbuhan energi jual kepada kelompok bisnis pada triwulan III 2016, katanya.

Ia menyebutkan berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Kantor Perwakilan BI Sumbar menunjukkan bahwa indeks perkembangan dunia pada triwulan III 2016 hanya mampu mencapai 0,11 atau turun dibandingkan periode sebelumnya.

Kebijakan penghematan belanja pemerintah daerah juga mempengaruhi juga permintaan barang dan jasa sehingga berimbas pada turunnya sektor perdagangan.

Selain itu, hasil kajian dengan kontak perusahaan perdagangan motor dan ritel menyebutkan bahwa kenaikan pajak reklame memberatkan biaya operasional mengingat bisnis penjualan perusahaan mengandalkan pemasaran melalui reklame dan billboard, kata dia.

Dari sisi pembiayaan, penurunan kinerja perbankan tercermin juga dari melambatnya pertumbuhan penyaluran kredit perdagangan menjadi 10,5 persen pada triwulan III 2016, lanjutnya.

Sebelumnya praktisi bisnis, Dony Oskaria mengemukakan kemampuan membaca selera pasar merupakan kunci untuk memenangkan persaingan usaha perdagangan di tengah terjadinya berbagai perubahan.

"Saat ini terjadi perubahan luar biasa, dulu kalau ingin punya usaha pakaian harus sedia modal Rp1 miliar untuk bangunan dan barang, sekarang cukup Rp300 ribu buat sampel pakaian, unggah ke situs online sudah bisa jualan," kata dia, yang saat ini menjabat Komisaris Garuda Indonesia.

Menurutnya dengan adanya perubahan tersebut jika dulu yang bisa membuka usaha hanya terbatas sekarang siapa pun bisa berjualan dan tentu saja yang akan unggul adalah mereka yang bisa membaca selera pasar dan perilaku konsumen.

Dulu saluran penjualan itu dalam bentuk fisik berupa toko, sekarang berubah ke format digital ini mengubah perilaku masyarakat, ujarnya.

Ia mengatakan perubahan tersebut membuat produk yang dijual di pasar menjadi sangat banyak dan beragam, berbeda dengan dulu yang masih terbatas karena orang sulit untuk masuk.

Akibatnya kata dia pemenang adalah mereka yang kreatif mampu memahami selera pasar, tidak statis dan selalu melakukan inovasi, katanya. (*)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026