
Analisa Perspektif Regional Atasi Bencana Asap
Rabu, 2 November 2016 12:05 WIB

Jakarta, (Antara Sumbar) - Deputi Bidang Koordinasi Kerawanan Sosial dan Dampak Bencana Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Masmun Yan Mangesa mengatakan pembahasan yang mendalam dan analisa dalam perspektif regional Asia Tenggara sangat diperlukan guna mengatasi bencana asap yang dampaknya hingga ke negara-negara tetangga.
Siaran pers dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diterima di Jakarta, Rabu menyebutkan hal tersebut diungkapkan Masmun pada diskusi di Yogyakarta, Selasa (1/11) bertema "Kebijakan Strategis dalam Pencegahan Kebakaran Lahan Gambut di Indonesia".
"Masalah bencana asap di Indonesia sungguh membutuhkan pembahasan berdasarkan perspektif ke-AsiaTenggara-an, dan tidak sebatas perspektif nasional," ujarnya, seraya menambahkan kerugian akibat kabut asap di Indonesia juga diderita oleh beberapa negara ASEAN seperti Singapura dan Malaysia.
Menurutnya, bencana asap patut dibahas oleh sebuah pusat studi yang mengkhususkan diri pada kawasan Asia Tenggara yang di dalamnya termasuk negara-negara tetangga yang terkena dampak dari peristiwa tersebut.
Karenanya, Masmun mengapresiasi diskusi yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) UGM bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta Friedrich Ebert Stiftung yakni sebuah lembaga politik tertua di Jerman.
Diskusi ini bertujuan memetakan permasalahan bencana asap dalam berbagai sudut pandang sekaligus mencari solusi alternatif untuk menyelesaikan persoalan bencana asap yang telah terjadi selama belasan tahun di Indonesia.
Data dari Bank Dunia yang dikeluarkan pada awal tahun 2016 lalu menunjukkan kerugian ekonomi Indonesia akibat bencana asap tahun 2015 mencapai Rp220 triliyun.
Sementara itu, sekitar 47 juta orang di Pulau Kalimantan dan Sumatera terpapar asap, serta setidaknya 19 orang dilaporkan meninggal dunia akibat kejadian tersebut. (*)
Pewarta: Libertina Widyamurti Ambari
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
