
BI: Inflasi Sumbar Meningkat
Jumat, 10 Juni 2016 16:32 WIB

Padang, (Antara Sumbar) - Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatera Barat mencatat laju inflasi tahunan provinsi ini selama triwulan I 2016 cenderung meningkat.
"Laju inflasi tahunan Sumbar pada akhir periode triwulan I 2016 tercatat sebesar 6,63 persen atau meningkat dibandingkan laju inflasi triwulan IV 2015 hanya 1,08 persen," kata Kepala Perwakilan BI Sumbar Puji Atmoko, di Padang, Jumat.
Dalam Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Sumbar triwulan I, Puji menyampaikan bahwa laju inflasi itu juga jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang hanya 4,45 persen, dan rata-rata laju inflasi provinsi regional Sumatera 5,71 persen.
Besaran inflasi tersebut, menjadikan Sumbar sebagai provinsi dengan laju inflasi tertinggi kedua secara nasional, katanya lagi.
Ia menjelaskan perbedaan pola musim tanam di Sumbar disertai curah hujan yang tinggi di beberapa daerah sentra produksi, serta ketergantungan pasokan beberapa komoditas dari luar Sumatera Barat, menjadi faktor peningkatan inflasi.
"Selain itu, terganggu pasokan bahan pangan akibat gagal panen di sejumlah sentra produksi, pergeseran pola tanam khususnya komoditas beras juga memicu terjadi inflasi," ujarnya pula.
Kemudian peningkatan harga tiket angkutan udara, kenaikan tarif cukai rokok, serta tren peningkatan harga emas global yang turut mempengaruhi peningkatan harga emas domestik, ujar dia lagi.
Sekretaris Daerah Sumbar Ali Asmar menyatakan, terdapat empat persoalan yang menjadi pemicu inflasi di daerah itu, sehingga pemerintah daerah perlu memperhatikannya agar angka inflasi terkendali.
"Pertama sistem tata niaga perdagangan, manajemen stok, kondisi infrastruktur dan panjang rantai pasokan bahan pangan," kata dia lagi.
Menurut Ali, sistem tata niaga perdagangan terutama bahan pangan perlu diperbaiki agar tidak terjadi kelangkaan.
Dia mencontohkan cabai, mengingat sebagian kebutuhan cabai Sumbar didatangkan dari Pulau Jawa, jika pasokan terganggu akan langsung menyebabkan harga melonjak, sehingga harus diantisipasi, ujarnya lagi.
Kemudian, lanjut dia, manajemen stok perlu diperbaiki dengan menyiapkan gudang untuk menyimpan bahan pangan utama, sehingga saat terjadi kelangkaan dapat dilakukan operasi pasar.
Berikutnya ia menyatakan kondisi infrastruktur seperti jalan, juga akan berpengaruh jika kondisinya jelek akan memperbesar biaya operasional pengangkutan komoditas pangan.
Lalu, masih panjang rantai perdagangan komoditas pangan dari petani hingga sampai ke pembeli juga perlu diperpendek, sehingga tidak terjadi spekulasi harga. (*)
Pewarta: Ikhwan Wahyudi
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
