
Reformasi Struktural dan Stabilitas Makro Harus Berimbang
Rabu, 23 Maret 2016 15:47 WIB

Jakarta, (Antara) - Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo menilai upaya reformasi stuktural yang tengah dilakukan oleh pemerintah Indonesia, harus berjalan seimbang dengan stabilitas makro.
"Kecepatan reformasi struktural dan kestabilan makro itu harus berimbang. Jangan sampai terjadi pemanasan ekonomi," ujar Perry di sela-sela seminar internasional "Structural Reforms in Emerging Asia" di Jakarta, Rabu.
Perry menuturkan, reformasi struktural oleh pemerintah, salah satunya dengan belanja modal dan investasi yang meningkat khususnya untuk infrastruktur, memang akan meningkatkan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD).
Namun menurut Perry, peningkatan CAD tersebut merupakan hal yang wajar dan masih dalam batas aman.
Bank Indonesia sendiri memperkirakan CAD pada 2016 ini akan meningkat menjadi 2,6 persen, dibandingkan posisi tahun lalu yang mencapai 2 persen.
"Dari sisi makro ekonomi (2,6 persen) membahayakan? Tidak. Karena 2,5-3 persen masih oke. Mari kita percepat reformasi struktural dan beberapa tahun ke depan kami belum lihat bahaya dalam makro ekonomi," kata Perry.
Perry menjelaskan, untuk mencapai suatu pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan ke depannya, reformasi struktural memang menjadi kunci.
Melalui reformasi struktural, baik dari sisi modal maupun produktivitas tenaga kerja, diharapkan akan lebih meningkat.
"Reformasi struktural dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita jangka menengah panjang," ujar Perry.
Ia juga menekankan, reformasi struktural memang harus diterapkan di segala sektor, namun yang paling utama adalah di sektor investasi dan infrastruktur. (*)
Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
