Logo Header Antaranews Sumbar

BI: Pertumbuhan Enam Persen dengan Reformasi Struktural

Senin, 23 Juni 2014 16:05 WIB
Image Print

Makassar, (Antara) - Bank Indonesia (BI) menyatakan ekonomi Indonesia dapat tumbuh di atas enam persen dengan laju inflasi terjaga dan defisit transaksi berjalan yang lebih sehat jika didukung dengan pelaksanaan kebijakan reformasi struktural yang ekstra ketat. "BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2014 berada pada kisaran 5,1-5,5 persen namun akan kembali ke 6, persen bahkan lebih jika reformasi struktural dilakukan dengan baik," kata Gubernur BI, Agus Martowardojo di Makassar, Senin. Agus menyebutkan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan menghindari perekonomian Indonesia dari midle income trap diperlukan percepatan proses transisi ke perekonomian maju berpendapatan tinggi dalam rangka menurunkan kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Proses transisi itu menuntut adanya kesinambungan laju pertumbuhan ekonomi yang berlandaskan pada keandalan sektor industri dan kemampuan pelaku ekonomi dalam beradaptasi dengan globalisasi. Saat ini, pembangunan landasan itu masih dihadapkan pada sejumlah tantangan besar yang bersifat struktural sehingga diperlukan pelaksanaan kebijakan reformasi struktural yang ekstra ketat. Gubernur BI menyebutkan ada tiga pilar reformasi struktural yang harus iimplementasikan yaitu pertama peningkatan daya saing industri dan ekonomi nasional. Pilar pertama artinya industri nasional tidak bisa lagi hanya mengandalkan teknologi rendah. "Industri harus menggunakan teknologi menengah dan modern. Terutama yang menyangkut industri komoditas, jangan lagi ekspor bahan mentah, semua harus value added, dan terus kehilir," kata Agus. Pilar kedua adalah peningkatan kemandirian ekonomi. Agus menyebutkan daerah-daerah di Indonesia jangan terus mengandalkan impor apalagi saat ini nilai impor sudah lebih besar daripada ekspor. Pilar ketiga adalah peningkatan sumber pembiayaan yang berkesinambungan. "Harus ada pendalaman pasar modal, pendalaman pasar keuangan, juga kontribusi pembiayaan tidak hanya dari perbankan tapi juga industri nonbank," katanya. Menurut dia, ketiga upaya penguatan tersebut perlu ditopang dengan ketahanan energi dan pangan dan penguatan modal dasar pembangunan yang meliputi infrastruktur, sumber daya manusia, kelembagaan dan teknologi. Menurut Agus, jika semua pilar reformasi struktural itu dilakukan, maka bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali ke enam persen lebih. Sebaliknya, jika tidak dilakukan maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus turun dan sulit naik. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026