Logo Header Antaranews Sumbar

Sumber: Sedikitnya 11 Gerilyawan Tewas di Ladang Gas Aljazair

Jumat, 18 Januari 2013 07:04 WIB
Image Print

Algiers, (ANTARA/Reuters/AFP) - Setidaknya 11 gerilyawan Muslim termasuk pemimpin mereka tewas pada Kamis ketika pasukan Aljazair menyerbu satu ladang gas di gurun untuk menyelamatkan puluhan sandera, kata sumber keamanan Aljazair. Dia mengatakan dua orang Aljazair, termasuk pemimpin kelompok tersebut Tahar Ben Cheneb, seorang komandan terkemuka di wilayah itu, berada di antara mereka yang tewas, bersama dengan tiga orang Mesir, dua warga Tunisia, dua Libya, satu Mali, dan seorang warga negara Prancis. Namun tidak jelas apakah mayat-mayat para gerilyawan juga ditemukan saat operasi berakhir. Dia juga mengatakan 30 sandera tewas, di antaranya 15 kebangsaannya telah ditemukan. Dari jumlah tersebut, delapan orang Aljazair dan tujuh orang asing, termasuk dua Inggris, dua Jepang dan warga negara Prancis. Gerilyawan garis keras menyandera 41 orang asing, termasuk tujuh warga AS, setelah serangan terhadap satu ladang gas di Aljazair timur, kata seorang juru bicara kelompok itu kepada dua jaringan berita Mauritania, Rabu. "Empat-puluh satu orang Barat, termasuk tujuh warga AS, Prancis, Inggris dan Jepang, disandera," kata juru bicara itu kepada Kantor Berita Mauritania dan Sahara Media. Ia menyatakan, lima sandera ditahan di ladang gas itu, sementara yang lain berada di sebuah kompleks perumahan di sekitar lokasi tersebut. Dua orang asing, seorang diantaranya warga Inggris, dilaporkan tewas dalam serangan fajar terhadap sebuah bis. Menurut juru bicara itu kepada kedua media tersebut -- yang menerbitkan pernyataan-pernyataan terpercaya dari kelompok yang terkait dengan Al Qaida -- serangan itu dilakukan "sebagai reaksi atas campur tangan mencolok Aljazair yang mengizinkan pesawat-pesawat Prancis menggunakan wilayah udaranya untuk melancarkan serangan di Mali utara". Ia menyebut sikap Aljazair itu sebagai "pengkhianatan bagi darah yang ditumpahkan syuhada Aljazair yang dibunuh oleh pasukan penjajah Prancis". Penculikan itu diklaim oleh sebuah kelompok yang dibentuk belum lama ini oleh Mokthar Belmokhtar, seorang pejuang garis keras terkenal bermata satu yang berjulukan "Tak Bisa Ditangkap", yang telah dijatuhi hukuman seumur hidup dalam persidangan in abesentia di negara asalnya, Aljazair. Ia adalah salah satu anggota pendiri Kelompok Salafist bagi Khutbah dan Perang (GSPC), yang kemudian menjadi terkenal dengan nama Al Qaida di Maghribi Islam (AQIM), namun ia meninggalkan kelompok tersebut pada akhir 2012. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026