
Padang Inflasi 1,79 Persen pada Desember
Senin, 4 Januari 2016 20:34 WIB

Padang, (AntaraSumbar) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mencatat Kota Padang mengalami inflasi 1,79 persen pada Desember 2015 atau naik 1,32 persen dibandingkan November 2015 yang mencapai 0,47 persen.
"Inflasi terjadi karena peningkatan indeks pada lima kelompok pengeluaran terutama bahan makanan, "kata Kepala BPS Sumbar, Yomin Tofri di Padang, Senin.
Menurut dia peningkatan indeks harga terjadi pada kelompok bahan makanan 4,14 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,44 persen, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,67 persen, pendidikan, rekreasi, serta olahraga 0,02 persen.
Ia menyampaikan beberapa komoditas mengalami kenaikan harga selama Desember 2015 di Padang yaitu cabai merah, angkutan udara, beras, tukang bukan mandor, bawang merah, bahan bakar rumah tangga, rokok kretek filter, tarif listrik, telur ayam ras, bayam dan beberapa komoditas lainnya.
Sedangkan komoditas yang turun harga antara lain minyak goreng, besi beton, tomat sayur, emas perhiasan, papaya, daging sapi, buncis, kacang panjang, daging ayam ras, ayam hidup dan beberapa komoditas lainnya, ujarnya.
Sementara laju inflasi tahun kalender sampai Desember 2015 Kota Padang mencapai 0,85 persen atau turun siginifikan dibandingkan 2014, lanjut dia.
Ia mengatakan dari 23 kota di Sumatera pada Desember 2015, inflasi tertinggi terjadi di Kota Sibolga sebesar 2,12 persen dan terendah di Kota Dumai 0,39 persen.
Sementara Kota Padang menduduki posisi ke-3 dan Kota Bukittinggi menduduki posisi ke dua dari seluruh kota yang mengalami inflasi di Sumatera, ujarnya.
Sebelumnya Bank Indonesia wilayah Sumbar menyampaikan inflasi di provinsi itu memecahkan rekor terendah pada 2015 setelah dua tahun terakhir selalu berada diatas dua angka.
"Hingga akhir tahun 2015 kami perkirakan inflasi Sumbar rendah di bawah satu persen," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar Puji Atmoko.
Menurutnya tekanan inflasi 2015 menunjukkan perbaikan yang sangat signifikan, hingga November 2015 inflasi tahunan mencapai 1,85 persen dan dari Januari ke November 2015 masih deflasi 0,71 persen.
Ini catatan sejarah baru inflasi terendah di Sumbar karena membaiknya pasokan bahan pangan,berkurangnya kenaikan harga-harga barang yang diatur pemerintah, serta berkurangnya faktor permintaan sebagai imbas pelemahan daya beli masyarakat, kata dia.
Namun ia mengingatkan ke depan, inflasi yang rendah tetap perlu diwaspadai mengingat pola yang sangat fluktuatif karena pernah tertinggi secara nasional pada 2014, kemudian menjadi sangat rendah pada 2015.
Yang kita perlukan adalah inflasi yang rendah dan stabil karena itu menjadi syarat bagi keberlangsungan ekonomi, ujar dia. (*)
Pewarta: Ikhwan Wahyudi
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
