Logo Header Antaranews Sumbar

Amnesti Internasional Khawatirkan Nasib Kaum Minoritas Indonesia

Rabu, 16 Januari 2013 20:34 WIB
Image Print

Jakarta, (ANTARA) - Amnesti Internasional mengkhawatirkan nasib kaum beragama minoritas di Indonesia yang saat ini mendapat diskriminasi terus menerus dari kelompok mayoritas yang justru mendapat dukungan dari pemerintah daerah. "Kasus ancaman relokasi paksa yang dihadapi oleh kaum Islam Syiah di Sampang adalah bukti kecil dari keberlanjutan diskriminasi terhadap minoritas relijius di Indonesia," kata Kepala Amnesti Internasional Asia Pasifik, Isabelle Arradon, dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu. Dalam kasus Islam Syiah di Sampang, Isabelle mengatakan bahwa pemerintah daerah justru mendukung diskriminasi dengan menekan penganut aliran tersebut untuk berpindah kepercayaan ke aliran Sunni Islam yang dianut oleh mayoritas jika ingin kembali ke rumahnya setelah peristiwa penyerangan pada Agustus lalu membuat 165 orang kehilangan rumah karena dibakar dan hidup di gedung olah raga yang tidak memadai. "Pemerintah Indonesia harus menjamin keamanan warga Syiah di Sampang dan mendukung kelompok tersebut untuk kembali ke rumahnya dengan terhormat. Pemerintah juga harus membantu korban membangun kembali rumahnya," katanya. Menurut Isabelle, pemerintah pusat juga harus mengakhiri diskriminasi kelompok minoritas seperti Syiah Sampang berbagai laporan yang menyatakan pemerintah provinsi dan kabupaten telah terlibat dalam pemaksaan pengikut Syiah untuk berubah agama sebelum kembali ke rumahnya. "Mereka yang terlibat dalam penyerangan terhadap kelompok Syiah pada Agustus lalu juga harus diadili dalam peradilan yang sesuai dengan standar internasional," katanya. Sejak 1 Januari, pihak kepolisian dari Provinsi Jawa Timur telah menarik semua petugas yang melindungi para pengungsi Syiah Sampang dan menurut keterangan dari Amnesti Internasional, pemerintah lokal juga menghentikan persediaan makan dan layanan kesehatan sejak Desember. Akibatnya, beberapa anak di tempat pengungsian jatuh sakit dalam beberapa minggu terakhir. "Pihak yang berwenang di Indonesia harus memastikan bahwa para pengungsi mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak, khususnya bagi anak-anak," kata dia. Pada Agustus lalu, komunitas Syiah di Desa Karang Gayam, Sampang, harus kehilangan rumah karena diserang oleh sekitar 500 orang tak dikenal yang menggunakan senjata tajam dan batu. Satu orang tewas dan lusinan luka-luka akibat serangan itu dan 35 rumah terbakar. Pada Mei 2012, dalam laporannya terhadap Dewan Hak Asasi Manusia, pemerintah Indonesia sebetulnya telah menegaskan komitmennya untuk melindungi kelompok minoritas, kebebasan beragama, dan berjanji untuk menyelesaikan persoalan intoleransi. Namun, dalam pandangan Amnesti Internasional, kelompok minoritas di Indonesia seperti Syiah, Ahmadiyah, dan Kristen masih mendapat perlakuan diskriminatif dan bahkan menjadi korban tindak kekerasan. Dalam kasus yang serupa dengan Sampang, komunitas Ahmadiyah di Nusa Tenggara Timur juga harus hidup dalam kondisi yang tidak layak di tempat pengungsian selama enam tahun setelah rumah mereka diserang dan dibakar oleh kawanan tak dikenal pada Februari 2006. (*/wij)



Pewarta:
Editor: Antara TV
COPYRIGHT © ANTARA 2026