
Togo akan Kirim 500 Prajurit ke Mali

Lome, (ANTARA/AFP) - Togo berencana mengirim sekitar 500 prajurit sebagai bagian dari pasukan Afrika yang akan ditempatkan di Mali untuk membantu pemerintah negara itu memerangi kelompok garis keras yang menguasai wilayah utara, kata satu sumber militer, Minggu. "Togo akan mengirim sekitar 500 prajurit ke Mali sebagai bagian dari pasukan Afrika yang dibentuk," kata pejabat militer yang tidak bersedia disebutkan namanya itu. "Kami sedang bersiap-siap. Mereka (pasukan) akan segera berangkat." Ia tidak memberikan penjelasan terinci lebih lanjut mengenai kapan pasukan itu akan dikirim. Dewan Keamanan PBB telah menyetujui pengiriman pasukan berkekuatan 3.300 orang untuk membantu Mali merebut kembali wilayah utara. Pasukan itu akan dikomandani oleh seorang Nigeria, yang telah berjanji mengirim 600 prajurit yang sejauh ini merupakan kontingen terbesar untuk Mali. Burkina Faso, Niger dan Senegal pada Sabtu berjanji masing-masing akan mengirim 500 prajurit untuk pasukan tersebut. Minggu, Benin menyatakan akan mengirim sekitar 300 personel yang akan ditempatkan bersama batalyon Togo. Sementara itu, Minggu, jet-jet tempur Mirage Prancis membom Mali untuk hari ketiga berturut-turut dan seorang pemimpin militan garis keras dilaporkan tewas. Mali, yang pernah menjadi salah satu negara demokrasi yang stabil di Afrika, mengalami ketidakpastian setelah kudeta militer pada Maret menggulingkan pemerintah Presiden Amadou Toumani Toure. Masyarakat internasional khawatir negara itu akan menjadi sarang baru teroris dan mereka mendukung upaya Afrika untuk campur tangan secara militer. Rencana-rencana sedang dirampungkan untuk mengirim pasukan intervensi Afrika berkekuatan sekitar 3.300 prajurit untuk mengusir militan yang menguasai wilayah utara Mali, namun PBB masih berkeberatan dan memperingatkan bahwa penempatan itu mungkin baru bisa dilakukan September mendatang. Kelompok garis keras, yang kata para ahli bertindak di bawah payung Al Qaida di Maghribi Islam (AQIM), saat ini menguasai kawasan Mali utara, yang luasnya lebih besar daripada Prancis. Militan garis keras Ansar Dine (Pembela Iman) merupakan salah satu dari sejumlah kelompok terkait Al Qaida yang mengusai Mali utara di tengah kekosongan kekuasaan akibat kudeta militer pada 22 Maret di wilayah selatan. Ansar Dine menguasai Timbuktu, sementara Gerakan Keesaan dan Jihad di Afrika Barat (MUJAO) memerintah Gao, kota besar lain di Mali utara. Kelompok-kelompok itu memberlakukan sharia di wilayah mereka dan berniat memperluas penerapan hukum Islam itu di kawasan lain Mali. Muslim garis keras itu juga menghancurkan makam-makam kuno Sufi di Timbuktu, yang diklasifikasi UNESCO sebagai lokasi warisan dunia. Mereka menganggap tempat-tempat keramat tersebut sebagai musyrik dan menghancurkan tujuh makam dalam waktu dua hari saja. Mali pada 1 Juli mendesak PBB mengambil tindakan setelah kelompok garis keras menghancurkan tempat-tempat keramat di Timbuktu yang didaftar badan dunia itu sebagai kota yang terancam punah. Pemberontak suku pada pertengahan Januari meluncurkan lagi perang puluhan tahun bagi kemerdekaan Tuareg di wilayah utara yang mereka klaim sebagai negeri mereka, yang diperkuat oleh gerilyawan bersenjata berat yang baru kembali dari Libya. Kudeta pasukan yang tidak puas pada Maret dimaksudkan untuk memberi militer lebih banyak wewenang guna menumpas pemberontakan di wilayah utara, namun hal itu malah menjadi bumerang dan pemberontak menguasai tiga kota utama di Mali utara dalam waktu tiga hari saja. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
