
Program Mitigasi ICCTF Sasar Pesisir Deli Serdang
Jumat, 13 November 2015 08:43 WIB

Medan, (Antara) - Program mitigasi masyarakat menghadapi perubahan iklim dari Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) menyasar pesisir Deli Serdang, Sumatera Utara, yang masuk dalam kawasan segitiga ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di barat Indonesia.
"Kenapa di barat, ini masuk kawasan segitiga ekonomi, perputaran dan percepatan pembangunan yang cepat biasanya kontradiktif dengan lingkungan," kata Direktur Eksekutif ICCTF Erwin Widodo di Medan, Jumat.
Bukan artinya di tempat lain tidak penting, namun, menurut dia, penilaian menunjukkan kerusakan tercepat ada di titik di mana pertumbuhan ekonomi berjalan cepat. Misalkan pergerakan 2.000 kapal terjadi di sana perairan Malaka, tentu akan ada titik ekonomi lain yang akan mengikuti muncul di sebelahnya.
Mangrove merupakan ekosistem tersendiri yang menjadi pelindung di antara darat dan laut. Jika kecepatan pertumbuhan ekonomi tidak diseimbangkan dengan kondisi lingkungan di lokasi tersebut, menurut dia, akan membahayakan ekologi.
"Kita secara bertahap mengembalikan mangrovenya ke kondisi lingkungan yang baik, seiring dengan mempersiapkan manusianya, agar disesuaikan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di lokasi tersebut," ujar dia.
Atas alasan itu, ia mengatakan ICCTF mendanai program Pengembangan Mangrove untuk Ketahanan Ekologi--Ekonomi Masyarakat Pesisir di Desa Percut di pesisir Deli Serdang yang dikelola organisasi masyarakat sipil Pilar Indonesia.
"Program (di Desa Percut) sudah berjalan sejak Juli, dan biasanya berjalan satu tahun. ICCTF mendanai Rp500 juta untuk setiap satu program, begitu pula di Desa Percut," ujar dia.
Direktur Pilar Indonesia Ismail mengatakan pada akhir Juli 2015 pihaknya bekerja sama dengan ICCTF menjalankan program di Desa Percut dengan menggunakan dana APBN 2015.
Pilar Indonesia, lanjutnya, melakukan program tiga pilar yakni pertama, pendidikan lingkungan termasuk training pengenalan alam, pengamatan burung, mengamati dampak perubahan lingkungan yang diajarkan secara reguler. Kedua, pemberdayaan masyarakat untuk mitigasi perubahan iklim, dan ketiga melakukan konservasi mangrove untuk mitigasi perubahan iklim.
Warga Desa Percut Ahmad Sayuti (39) yang mulai menekuni pembibitan mangrove sejak tiga tahun terakhir mengatakan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan keluarganya lebih besar dibandingkan ketika masih menjadi nelayan. Penjualan bibit mangrove dapat mencapai Rp10 juta hingga Rp15 juta per bulan, jauh dibandingkan dengan penghasilan sebagai nelayan tradisional.
Ia telah menanam mangrove sejak 1982 namun belum memahami manfaat langsung dari penanaman tumbuhan tersebut. "Dulu saya tanam saja, tidak tahu manfaatnya ternyata banyak. Kita yang tanam masyarakat lain yang tebang".
Ia bersama Kelompok Tani Maju Bersama sejak tiga tahun terakhir bersama Pilar Indonesia sudah menanam 25 hektare (ha) mangrove di pesisir Desa Percut, dan ketinggiannya sudah mencapai 60 centimeter (cm). Kondisi tersebut berdampak pada peningkatan jumlah tangkapan kepiting, udang, dan ikan lainnya.
Berdasarkan data satu peta Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) 2014, Indonesia memiliki luasan hutan mangrove 3,3 juta ha. Hutan ini mudah ditemukan disepanjang pantai pesisir berlumpur di pesisir timur Sumatera, pesisir Kalimantan, pesisir utara Jawa, pesisir laut Sulawesi, dan pesisir selatan Papua. (*)
Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
