Logo Header Antaranews Sumbar

Pejabat PBB: Krisis Pengungsi Adalah "Krisis Nilai"

Jumat, 9 Oktober 2015 08:54 WIB
Image Print

Jenewa, (Antara/Xinhua-OANA) - Seorang ahli senior mengenai perlindungan internasional di Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) pada Kamis (8/10) mengatakan krisis pengungsi saat ini adalah "krisis nilai".

Di dalam pidato dalam pertemuan tahunan Komite Pelaksana UNHCR, Asisten Komisaris Tinggi UNHCR Urusan Perlindungan Volker Turk memperingatkan mengenai meningkatnya resiko kurangnya komitmen dari pemerintah di seluruh dunia bagi inti hak asasi manusia.

Ia menjelaskan pola global mengenai peningkatan perang dan konflik serta lingkungan kemanusiaan yang bertambah buruk.

"Penolakan, pembangunan tembok, peningkatan penahanan, dan pembatasan akses, ditambah dengan beberapa tempat sah bagi keselamatan, takkan pernah menjadi jawaban," kata Turk.

Menurut dia, fenoma orang yang tiba di satu tempat pengungsi kemduai pergi dengan rasa kecewa ke tempat lain telah menjadi pusat perhatian tajam pada 2015, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat pagi. Dan lebih dari 500.000 pengungsi tiba melalui laut di Eropa, Asia Tenggara dan tempat lain.

Turk juga memuji apa yang ia gambarkan sebagai "sangat banyak arus rasa kasih-sayang masyarakat dan bertambah banyaknya dukungan masyarakat" yang terlihat di Eropa dan tempat lain tahun ini dalam menanggapi pengungsi yang datang, terutama banyak anggota masyarakat mengundang pengungsi untuk menginap di rumah mereka atau wisatawan yang memberikan perawatan darurat.

Namun, ia memperingatkan bahwa dengan cepatnya peningkatan jumlah pengungsi dan migran di Eropa dan terus bertambahnya jumlah orang yang dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka di seluruh dunia, tantangan terbesar hari ini ialah "politik populis dan perdebatan terbuka yang menyhimpan bahaya serta iklim ketakutan yang ditimbulkan".

"Ini seringkali disulut dan dikobarkan oleh pelaporan media yang tidak bertanggung-jawab, kurangnya kepemimpinan moral dan politik, dan kebencian terhadap orang asing serta rasisme," katanya. Ia menambahkan semua itu menunjukkan bahwa makin mendasar krisis yang kita hadapi hari ini adalah 'krisis nilai'." (*)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026