
“Balimau†Menyambut Ramadhan

Berbagai kegiatan dilakukan umat Islam untuk menyambut datangnya Ramadhan. Ada yang meluapkan kegembiraan dengan memperbanyak silaturrahmi, saling bermaaf-maafan antara kerabat dan tertangga.
Mengirim ucapan selamat Ramadhan melalui Short Message Service (SMS) permintaan maaf, namun ada juga yang menyambut dengan ritual dan tradisi tertentu, dengan maksud dan tujuan yang sama memuliakan bulan Ramadhan.
Bergembira menyambut datangnya Ramadhan memang dianjurkan. Bahkan sejumlah hadist Rasulullah SAW mengisyaratkan tentang keutamaan menyambut bulan suci ini.
Di antaranya; Barangsiapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, diharamkan Allah jasadnya menyentuh api neraka. (H.R. Al-Nasai).
Hadist lainnya; Kalaulah seandainya umatku tahu keutamaan bulan puasa, tentu mereka akan meminta supaya bulan yang ada dijadikan puasa selamanya (H.R. Ibn Mazah).
Mengingat besarnya keutamaan Ramadhan, tentu kita sepakat untuk memuliakan bulan suci ini, bahkan ini menjadi suatu keharusan bagi kita umat Islam.
Namun memuliakan dengan mencampur adukkan suruhan agama dengan tradisi yang melanggar norma di masyarakat tentu tidaklah elok.
Tradisi balimau yang dulunya bertujuan untuk menyucikan diri dengan saling bermaaf-maafan antara kerabat dan tetangga sebelum melaksanakan ibadah puasa, kini disalah artikan dengan mandi bersama-sama di sungai, sepemandian antara kaum laki-laki dan perempuan.
Para ulama dengan tegas sudah mengatakan, bahwa ini bukanlah suruhan agama. Namun tradisi ini seolah begitu mengakar dan banyak dilakukan umat muslim di berbagai pelosok Sumatera Barat.
Ketua Komisi Fatwa MUI Kabupaten Pesisir Selatan, Alimuddin baru-baru ini dengan tegas mengatakan, bahwa dalam ajaran Islam tidak ada ritual tertentu yang wajib dilakukan dalam menyambut Ramadhan.
Bahkan keliru jika menganggap balimau suatu kewajiban yang harus dilakukan menjelang puasa.
Inti menyambut Ramadhan adalah bagaimana kita bisa memperbaiki diri, membersihkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela yang jelas-jelas dilarang oleh agama.
Ia mengatakan kegiatan menyambut Ramadhan ini kalau dilihat dari hukum agama adalah "mubah", dikerjakan boleh, tidak dikerjakan tidak apa-apa.
Tapi kalau "balimau" dengan cara mandi bersama-sama sepemandian antara kaum laki-laki dan wanita, apalagi bukan mukhrim jelas salah. Bahkan bisa menodai kesucian bulan Ramadhan.
Ia menjelaskan tradisi "balimau" yang sebenarnya dilakukan orang-orang dahulu adalah kegiatan yang digelar oleh ninik mamak (tetua adat) dengan mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk silaturrahmi dan dilaksanakan sehari sebelum masuknya bulan suci Ramadhan.
Dalam kegiatan itu ada ceramah agama yang berisikan tata cara berpuasa yang baik, larangan-larangan dalam pelaksanaan puasa.
Setelah kegiatan ceramah selesai, kegiatan dilanjutkan dengan makan dan berdoa bersama. Setelah itu masing- masing peserta saling maaf-memaafkan.
Di penghujung acara pihak perempuan dari tetua adat "Bundo Kanduang" menyiapkan air wangi-wangian dari kembang di tempat-tempat yang disediakan dan diperuntukkan bagi peserta acara.
Masing-masing peserta menggunakan air itu untuk membasuh rambut sampai ke wajah. Itulah bentuk suka cita masyarakat menyambut bulan suci Ramadhan.
Namun kegiatan balimau anak muda sekarang jauh melenceng, dimana sehari sebelum masuknya bulan puasa, mereka menuju sungai dengan niat untuk "balimau" dan mandi bersama di sana.
Pemerintah, tokoh masyarakat, alim ulama dan para orang tua perlu kembali menata ulang kegiatan yang awalnya bertujuan baik, menjadi kegiatan yang salah dan tidak bernilai guna.
Masyarakat harus menyadari bahwa luapan kegembiraan saja tidaklah cukup untuk menyelamatkan kita dari api neraka. Sama halnya dengan mandi balimau jelang puasa tidak akan mampu mensucikan kita dari noda dan dosa.
Kegembiraan tentu bukan dalam artian seremoni belaka, melainkan adanya upaya konsisten untuk berusaha menerjemahkan segala makna yang terdapat dalam pelaksanaan ibadah puasa.
Ibadah puasa hanya dapat dilakukan dengan adanya semangat yang sungguh-sungguh dan dibuktikan dengan ketundukan hati orang beriman.
Sehingga dikatakan hanya orang berimanlah yang dapat melaksanakan ibadah puasa secara baik dan yang pantas bergembira akan datangnya bulan puasa.
Dengan demikian tentu banyak hal yang harus kita persiapkan untuk menyambut bulan suci ini, baik secara fisik maupun mental.
Namun yang terpenting adalah perlu kesungguhan kita untuk membuktikan kegembiraan akan datangnya Ramadhan melalui peningkatan ibadah dan perbaikan moral dan akhlak.
Semoga kita dapat menjadikan Ramadhan 1436 Hijriyah ini lebih baik dan membekas dari tahun sebelumnya. Karena tidak ada yang dapat menjamin kalau tahun depan kita masih akan dapat melaksanakan ibadah puasa ini. SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN. (***)
Pewarta: Redaksi
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
