
PBB: 174 Juta Dolar untuk Pengungsi Korban Boko Haram

Dakar, (Antara/AFP) - Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Kamis menyerukan pengadaan 174 juta dolar (sekitar 1,74 triliun rupiah) untuk "bantuan menyelamatkan jiwa" bagi hampir 200.000 warga Nigeria, yang lari dari serangan keji kelompok Boko Haram. Pemberontak itu, yang berusaha mendirikan negara Islam di negara berpenduduk sebagian besar Muslim di utara, sudah menewaskan lebih dari 13.000 orang sejak 2009. "Pengungsi di Nigeria timurlaut dan seberang perbatasan dalam keadaan sangat menyedihkan," kata Liz Ahua, wakil Afrika barat untuk badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa UNHCR, pada peluncuran seruan itu di Dakar. "Mereka terus menguatirkan hidup mereka dan pada saat ini tidak dapat pulang," katanya. Sekitar 192.000 orang lari menyeberangi perbatasan Nigeria ke Kamerun, Chad dan Niger mencari perlindungan dari kekerasan tanpa henti, kata UNHCR. Sejumlah 1,2 juta lagi mengungsi di Nigeria sebagai akibat langsung pertumpahan darah itu, kata badan tersebut pada peluncuran Rencana Tanggapan Pengungsi Kawasan Antar-Lembaga Nigeria. Petugas dan relawan di 23 lembaga bantuan dan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan berjuang untuk menyediakan tempat tinggal, makanan, pendidikan dan kebersihan bagi pengungsi tersebut. "Pendanaan memadai sangat penting untuk memastikan lembaga bantuan dapat meningkatkan keadaan hidup pengungsi di negara suaka dan menanggapi keperluan akan perlindungan mereka," kata Ahua. "Kita perlu terus memindahkan pengungsi dari daerah panas perbatasan dan membangun kampung pengungsi tambahan jika diperlukan," katanya. Pemilihan presiden, yang pada umumnya berlangsung damai pada 28 Maret, menghasilkan kekalahan Goodluck Jonathan dari penantangnya, Muhammadu Buhari, dalam peralihan kekuasaan pertama secara demokratik di Nigeria. Tapi ketakutan akan keamanan tetap tinggi menjelang pemilihan umum daerah pada akhir pekan ini. Nigeria, Chad, Niger dan Kamerun pada bulan lalu melancarkan serangan bersama bersejarah terhadap Boko Haram sesudah pegaris keras itu memperluas gerakan dengan serangan di negara tetangga. Presiden Chad Idriss Deby berjanji melenyapkan kelompok itu dan meminta komandannya, Abubakar Shekau, menyerahkan diri, memperingatkan bahwa ia tahu tempat pemimpin tersebut bersembunyi. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
