
Inggris Minta Gabung Bank Infrastruktur Dukungan Tiongkok

London, (Antara/AFP) - Inggris pada Kamis mengumumkan harapan untuk menjadi negara besar Barat pertama yang bergabung dengan bank pembangunan yang dipimpin Tiongkok, menarik sebuah tanggapan kekhawatiran dari Washington. Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB) bermodal 50 miliar dolar AS telah dibentuk Beijing sebagai cara pembiayaan pembangunan regional, dan dipandang sebagai saingan potensial lembaga yang berbasis di AS seperti Bank Dunia. Menteri Keuangan George Osborne mengatakan Inggris akan ikut berdiskusi dengan anggota-anggota pendiri lainnya untuk menetapkan tata kelola dan struktur pertanggungjawaban lembaga itu akhir bulan ini, dalam sebuah langkah untuk meningkatkan hubungan dengan Tiongkok. "Bergabung dengan AIIB pada tahap pendirian akan menjadi kesempatan tak ada taranya bagi Inggris dan Asia untuk berinvestasi dan tumbuh bersama," kata Osborne dalam sebuah pernyataan. Langkah ini mendapat tanggapan hati-hati dari Washington, sebuah catatan langka perselisihan dalam hubungan khusus yang mengikuti kritik dari AS tentang penurunan belanja pertahanan Inggris. "Kami percaya setiap lembaga multilateral baru harus menggabungkan standar tinggi Bank Dunia dan bank-bank pembangunan regional," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS Patrick Ventrell. "Berdasarkan banyak diskusi, kami memiliki kekhawatiran tentang apakah AIIB akan memenuhi standar-standar yang tinggi, khususnya terkait dengan tata kelola, serta perlindungan lingkungan dan sosial." Tiongkok dan 20 negara lainnya telah menandatangani nota kesepahaman untuk mendirikan bank infrastruktur yang bermarkas di Beijing pada Oktober tahun lalu. Bank memiliki dukungan dari negara-negara termasuk India, Singapura, Malaysia, Kamboja, Pakistan, Filipina, Uzbekistan dan Vietnam. Namun beberapa negara besar yang bersekutu dengan Amerika Serikat termasuk Jepang, Korea Selatan dan Australia telah menolak untuk menjadi anggota pendiri. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
