Logo Header Antaranews Sumbar

Presiden Prancis Serukan Dialog di Republik Afrika Tengah

Selasa, 1 Januari 2013 09:31 WIB
Image Print

Paris, (ANTARA/Xinhua-OANA) - Presiden Prancis Francois Hollande, Senin (31/12), berbicara melalui telepon dengan Presiden Republik Afrika Tengah (CAR) Francois Bozize, dan menyerukan dimulainya dialog antara pemerintah CAR dan semua pihak, termasuk gerilyawan, demikian satu pernyataan dari Presiden Prancis itu. Hollande menyambut upaya penengahan yang dilancarkan oleh Uni Afrika (AU) dan Masyarakat Ekonomi Negara Afrika Tengah (ECCAS) guna menemukan penyelesaian politik bagi krisis di Republik Afrika Tengah. Kepala Negara Prancis itu mengundang Presiden CAR untuk "memulai proses ini sesegera mungkin". Senin pagi, Menteri Luar Negeri Prancis Luarent Fabius juga mendesak gerilyawan dan para pejabat CAR agar melancarkan pembicaraan segera guna menghentikan pertempuran sengit dan membentuk pemerintah koalisi. Fabius mengatakan pembicaraan "adalah prioritas yang lebih besar guna mengakhiri permusuhan". Pada Ahad, Bozize setuju untuk mengadakan pembicaraan tanpa syarat dengan para pemimpin gerilyawan --yang mengancam akan menggulingkan dia. Petempur Saleka, yang menguasai lima ibu kota regional di bagian tengah dan utara negara Afrika tersebut, memprotes pemerintah karena belum menepati janji mengenai penyatuan gerilyawan ke dalam masyarakat sesuai dengan kerangka kerja kesepakatan perdamaian 2007 dan 2011. Prancis mengirim 180 prajurit tambahan ke bekas koloninya itu, tempat 420 prajuritnya ditempatkan dalam misi perdamaian di Republik Afrika Tengah. Gerilyawan, yang telah merebut banyak daerah Republik Afrika Tengah, Senin, kembali mengeluarkan ancaman untuk memasuki Ibu Kota CAR, Bangui, menuduh pemerintah menganiaya penduduk dan warga yang dekat dengan gerilyawan. "Kami menyeru pasukan penjaga perdamaian Afrika untuk campur tangan secara langsung di ibu kota guna menghentikan pelanggaran dan pembunuhan tahanan, atau jika mereka tidak mencegah kami akan melakukannya," kata juru bicara gerilyawan Eric Massi. Gerilyawan, yang mengabaikan usaha penengahan, Sabtu (29/12), merebut satu kota lain dalam gerak maju mereka ke Bangui. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026