
Obama Tunda Keputusan Kirim Senjata ke Ukraina

Washington, (Antara/AFP) - Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Senin (Selasa WIB), sepakat untuk menunda keputusan pengiriman senjata ke Ukraina sampai upaya mediasi yang dipimpin Jerman untuk mencapai gencatan senjata dengan Rusia terlaksana. Saat bertemu dengan Kanselir Jerman Angela Merkel di Gedung Putih, Obama mengatakan ia berharap Merkel berhasil mencapai kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengakhiri kemelut yang telah berlangsung selama 10 bulan di Ukraina timur. Namun ia memperingatkan, jika mediasi tersebut gagal, Rusia akan menghadapi hukuman yang lebih keras. Sanksi keras yang dikenakan Barat serta anjloknya harga minyak telah menghancurkan ekonomi Rusia namun sejauh ini gagal menghentikan pemerintahan Putin untuk mendukung kelompok pemberontak Ukraina. Moskow membantah tudingan tersebut. "Harapan saya adalah bahwa melalui upaya diplomatik ini, harga yang harus dibayar itu menjadi cukup tinggi sehingga opsi yang dipilih Putin adalah resolusi diplomatik," kata Obama. "Saya tidak akan menghakimi apakah nantinya mereka akan berhasil," katanya. "Jika tidak, kami akan meningkatkan biayanya. Dan kami tidak akan mengalah." Obama mengindikasikan bahwa sanksi lebih jauh serta bantuan "pertahanan mematikan" sudah disiapkan, namun belum ada keputusan yang dibuat. Merkel sendiri menentang pengiriman senjata dan memperingatkan bahwa hal itu akan memperuncing peperangan yang tidak akan dimenangi oleh Ukraina menghadapi pasukan pro-Rusia yang lebih besar dengan persenjataan lebih lengkap. Namun ia mengakui bahwa gerakan untuk mencapai gencatan senjata dengan Putin --setelah ia mengingkari kesepakatan sebelumnya-- bisa saja gagal. "Kami tidak ada jaminan," katanya dalam jumpa pers bersama menjelang dialog pekan depan. "Saya tidak bisa memberi Anda jaminan mengenai hasil dalog pada Rabu dan mungkin tidak ada hasil apapun." "Saya sendiri, tidak akan bisa hidup tanpa mencoba upaya ini." Ketertiban Eropa Konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 5 ribu orang. Kekerasan yang terus meningkat setiap hari membuat risikonya semakin tinggi sementara pemberontak yang dipersenjatai Rusia semakin jauh menguasai wilayah Ukraina. "Jika kita menyerahkan prinsip kedaulatan wilayah, kita tidak akan mampu menjaga ketertiban Eropa," kata Merkel, yang kemudian meminta waktu kepada Kanada untuk mencapai kesepakatan damai. Obama percaya pada pandangan bahwa Ukraina, Rusia dan seluruh Eropa saat ini berada di persimpangan jalan. "Kami sangat setuju bahwa abad ke-21 tidak bisa dibiarkan tanpa perubahan, kita diam dan membiarkan perbatasan Eropa diubah di bawah todongan senjata," katanya. Partai Republik mengecam Obama karena terlibat dalam dialog lebih lanjut dan menudingnya menelantarkan Ukraina. "Kelemahan Presiden Obama menghadapi agresi membuat dunia menjadi tempat yang semakin berbahaya," kata senator partai Republik Lindsey Graham. "Adalah fakta yang menyedihkan, musuh-musuh kita jarang ditantang sementara para sahabat terus menerus dilemahkan dan diabaikan." Para pejabat dari Ukraina, Rusia, Jerman dan Prancis masih membahas rincian mengenai pertemuan puncak empat-pihak pada Rabu nanti. Menjelang pertemuan di Minsk itu, Uni Eropa memutuskan untuk menunda pelaksanaan sanksi baru terhadap Rusia, untuk memberi kesempatan pada dialog. "Pelaksanaannya ditunda selama beberapa hari atas permintaan Ukraina yang ingin pihak-pihak lain memiliki alasan lebih sedikit untuk menolak negosiasi atau bernegosiasi dengan cara tidak konstruktif dalam pertemuan puncak Minsk, Rabu, jika itu terjadi," kata menteri luar negeri Lithuania Linas Linkevicius.(*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
