
Momentum Kebangkitan Pendidikan

Sudah menjadi agenda tahunan, hari ini 02 Mei 2012, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Seperti halnya hari ulang tahun, kita kembali dituntut merenung, mengevaluasi untuk mengingatkan bagaimana kondisi pendidikan kita hari ini, sudah lebih baik atau masih kurang, tujuannya tentu untuk perbaikan di masa mendatang.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional ini, sejatinya menjadi momentum refleksi terhadap peningkatan kualitas pendidikan kita. Karena mengukur indeks mutu manusia, pendidikan adalah salah satu cara. Secara riil kita harus akui posisi kualitas pendidikan kita masih jauh dari bermutu, bahkan dihadapkan pada berbagai masalah sehingga mengakibatkan kualitas pendidikan kita masih jauh dari harapan.
Kita masih mendengar jeritan tentang banyaknya bangunan sekolah yang tidak layak pakai, sarana prasarana belajar meja dan kursi serta alat bantu belajar lain yang kurang memadai, juga jeritan para guru yang tidak mendapat gaji yang sesuai, karena kecilnya anggaran. Tahun demi tahun berjalan, hampir tidak ada perubahan.
Juga diakui, akses pendidikan kita memang sudah mulai membaik, tetapi belum yang terbaik. Dari sudut pandang inilah kita melihat bahwa pendidikan kita belum dipandang sebagai alat pendongkrak bagi kebangkitan pendidikan. Makna kebangkitan pendidikan sepertinya masih jauh dari yang diimpikan.
Masalahnya adalah, kita tidak pernah menempatkan makna kebangkitan pendidikan itu dalam bentuk yang paling sederhana. Karena itu, mari kita sederhanakan saja dengan menyatakan bahwa indikator kebangkitan pendidikan adalah masuknya kita dalam jajaran terbaik dunia, misalkan 10 besar.
Dalam pengertian 10 besar dalam hal apapun, apakah itu sektor teknologi informasi, industri, pendidikan, olahraga dan sektor lainnya. Jika kita fokus pada tujuan untuk menjadi yang terbaik di sektor-sektor tersebut, maka satu-satunya cara untuk bisa masuk ke dalam posisi itu adalah mempersiapkan sumber daya manusia. Dan itulah pendidikan. Tanpa sumber daya manusia, maka tujuan itu sangat mustahil tercapai.
Kenapa? hanya manusia terdidik yang bisa membawa Indonesia maju dalam bidang industri. Hanya manusia terdidik yang bisa memikirkan arah ekonomi terbaik di negeri ini. Hanya manusia terdidik pula yang bisa menaikkan kelas kita ke arah budaya dan hukum yang terbaik. Hanya manusia yang terdidik yang bisa membawa negara kita memiliki prestasi sekaligus prestise dalam bidang apa pun.
Namun amat disayangkan, dunia pendidikan kita tidak memiliki arah yang jelas. Kita sering terpaku dalam penyelenggaraan pendidikan yang asal saja dan asal sudah. Pemerintah memang sudah memberikan perhatian dan dana yang memadai dengan mengharuskan anggaran 20 persen dalam APBN dan APBD sesuai amanah UU tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Tetapi perhatian dan dana yang memadai saja tidak cukup.
Terbukti, dana besar tersebut ternyata lebih banyak digunakan untuk memberikan gaji tenaga pendidik. Belum lagi kalau kita berbicara mengenai penyelenggaraan pendidikan yang penuh dengan kekurangan di sana sini. Di saat penyelenggara pendidikan dengan penuh percaya diri menyatakan bahwa Ujian Nasional (UN) diselenggarakan dengan baik, persis sesudahnya berita mengenai kecurangan terkuak ke permukaan.
Karena itu, jika negeri ini ingin bangkit, maka tidak ada jalan lain selain meningkatkan kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan memerlukan pembenahan yang luar biasa mendasar.
Di sana kita akan membicarakan soal peningkatan mutu tenaga pendidik. Di sana kita berbicara soal kesetaraan dan keadilan di dalam mengakses pendidikan yang bermutu. Di sana pula kita berbicara soal infrastruktur. Di sana kita berbicara soal grand design pendidikan. Di sana kita berbicara soal kemampuan manajemen penyelenggaraan pendidikan.
Jadi, ada begitu banyak hal yang harus kita bicarakan untuk menjadikan pendidikan kita menjadi pendorong dan penghela bangsa ini untuk keluar dari ketertinggalan.
Masih banyak pekerjaan kalau kita ingin menjadikan pendidikan sebagai alat untuk menciptakan kebangkitan pendidikan nasional yang sejati. Kita harus berjuang keras dengan arah yang jelas. Tetapi yang tidak bisa dilupakan adalah tanpa pendidikan yang sungguh-sungguh, maka kebangkitan pendidikan nasional hanya ilusi semata. (*)
