
Guru-guru Dibekali

Setelah dilakukan kajian ternyata disebabkan oleh kekurangan guru yang bervariasi di sekolah-sekolah, pada umumnya kekurangan terjadi pada sekolah yang sangat jauh dari jangkauan trasportasi dan akses ke pusat kota dan ini merupakan persoalan klasisk.Ketersedian Guru di sekolah sangat menentukan hasil pendidikan, apalagi kekurangan guru, menurut data terakhir Dinas Pendidikan dan Olah Raga, kekurangan tersebut lebih dari 800 guru, tentu persoalan tidak ringan bagi Kabupaten Padang Pariaman untuk memenuhinya.Meskipun demikian, Pemkab Padang Pariaman terus menggalakkan pembekalan berbagai ilmu bagi guru-guru tersebut. Semua guru diwajibkan mengikuti pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi untuk memenuhi standar kompetensi guru.Bupati Padang Pariaman, H. Muslim Kasim Datuak Sinaro Basa berharap hasil temuan Tim Jaringan Penelitian (Jarlit) yang melahirkan Rancangan Peraturan Bupati dapat menjadi pokok Produk Hukum berkekuatan pasti di Kabupaten Padang Pariaman, dan kewajiban bagi hukum yang segera memproses lebih lanjut sehingga sinkron dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Bupati juga meminta kepada Kepala Dinas Pendidikan agar mendata guru-guru di Padang Pariaman yang belum ikut atau lulus sertifikasi dalam rangka perbaikan mutu pendidikan. "Diharapkan guru-guru yang ada untuk tidak hanya puas dengan ilmu yang telah dimilikinya, melainkan harus terus belajar, serta meningkatkan kemampuannya dalam mengajar," ujarnya.Bupati menjelaskan, kemampuan seorang guru dalam memberikan materi pelajaran sangat menentukan kualitas pendidikan sebuah sekolah serta masa depan generasi bangsa."Tidak mungkin anak-anak didik bisa lebih baik, bila saja gurunya tidak pandai mengajar dan tidak mau untuk belajar," tambahnya.Agar terwujudnya perbaikan mutu pendidikan tersebut, kata Bupati, kepada guru-guru yang belum ikut atau lulus sertifikasi diimbau untuk segera mendaftarkan diri ke Dinas Pendidikan, atau ke Departemen Agama bagi guru-guru agama.Sementara itu, SMAN 1 Lubuk Alung (LA), Padang Pariaman, mewajibkan guru-gurunya berbahasa Inggris setiap pagi sebelum masuk kelas, begitu pula dengan pengurus OSIS, dalam rangka menjadikan sekolah tersebut sebagai Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)."SMAN 1 Lubuk Alung termasuk salah satu rintisan Sekolah Berstaraf Internasional (RSBI) di Kabupaten Padang Pariaman yang telah tersandang sejak dua tahun lalu. Ini menjadi sebuah tantangan berat bagi kami," ungkap Kepala SMAN 1 Lubuk Alung Dra. Dian Mulyati Syarfi.Hal tersebut diwujudkan dengan menerapkan guru-guru termasuk Kepala Sekolah, tiap pagi diwajibkan menggunakan bahasa Inggris sebelum masuk kelas, dalam bentuk melaporkan atau menceritakan sesuatu."Mewujudkan SBI memang tidak semudah yang dibayangkan, salah satunya dengan menerapkan aktif berbahasa Inggris. Bila ingin maju, harus dimulai dari sekarang," imbuhnya.Penerapan berbahasa Inggris tersebut, kata dia, tentu disambut baik para guru dan siswa-siswanya yang dapat sekaligus belajar, dan meningkatkan kualitas SDM menjadi lebih baik dibandingkan sekolah-sekolah umum lainnya.Selain itu, Bupati juga menyatakan, bila dianggap penting, Pemkab Padang Pariaman siap mempelopori penambahan jam mata pelajaran sejarah."Kalau ada kaitannya dengan perlunya kebijakan Pemerintah Daerah, maka Kabupaten Padang Pariaman siap mempelopori pembuatan kebijakan itu, misalnya penambahan jam mata pelajaran sejarah secukupnya dan lain-lain yang dianggap penting," katanya.Hal tersebut disampaikan Bupati, karena menurutnya generasi muda sekarang banyak yang tidak tahu tentang sejarah daerahnya sendiri, termasuk tokoh-tokoh sejarah dari Sumatera Barat yang telah berkiprah di pentas nasional."Generasi muda juga tidak kenal lagi dengan kiprah perjuangan Bung Hatta, Haji Agus Salim, Sjahrir, Yamin, Tan Malaka dan lain-lain, padahal dengan mempelajari perjuangan mereka akan terbangun kesadaran untuk melanjutkan tradisi merantau dalam budaya masyarakat Minangkabau," jelas Bupati.Bupati berpendapat, nilai-nilai merantau sekarang mulai redup. Anak-anak minang yang tamat SMA enggan melanjutkan pendidikan ke luar daerah Sumatera Barat.Dalam mendukung hal tersebut, kata dia, juga dibutuhkan guru sejarah yang berkualitas, yaitu guru sejarah yang mampu berinovasi, berimprovisasi, menerapkan teknologi baru dalam pembelajaran.Pembelajaran sejarah tidak boleh membosankan atau tidak menarik dan terkesan membuang-buang waktu, sebaliknya lehadiran guru sejarah di depan kelas seharusnya ditunggu-tunggu oleh peserta didik, demikian Muslim Kasim.Dia juga menilai, guru-guru sejarah menyandang tugas yang sangat mulia dalam mendidik anak bangsa."Guru sejarahlah yang mengenalkan generasi muda bangsa terhadap sejarah perjuangan bangsanya yang sangat panjang," kata dia.Lebih lanjut Bupati menilai, melalui peran guru sejarah, anak-anak bangsa menjadi tahu tentang sejarah bangsanya, bahwa alam kemerdekaan ini adalah produk dari perjuangan para pendahulu yang telah mengorbankan pikiran, bahkan jiwa, raga, dan harta yang amat banyak.Jadi, belajar sejarah menjadikan anak bangsa menjadi arif dan bijaksana dalam merumuskan perannnya dalam alam kemerdekaan ini, sehingga dalam dirinya terbangun kesadaran dan wawasan sejarah bahwa masa kini adalah produk masa lalu dan apa yang diusahakan masa kini akan berbuah dan dinikmati oleh anak cucu kita pada masa depan.Dengan demikian, kata dia, pembelajaran sejarah dapat membangun wawasan sejarah bagi generasi muda yang terlihat dari kemauan yang besar untuk mengambil peran dalam sejarah bangsa.Maka perilaku menyimpang seperti hura-hura, bermalas-malasan atau bersenang-senang dengan obat terlarang, mentalitas mencapai keberhasilan dengan jalan pintas dan sebagainya akan terjauh dari generasi muda.
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
