
Rusia Katakan Sanksi Baru AS, Kanada, Kobarkan Kerusuhan Ukraina

Moskow, (Antara/AFP) - Putaran terakhir sanksi-sanksi terkait Ukraina oleh Amerika Serikat dan Kanada menghambat upaya untuk menyelesaikan konflik, kata kementerian luar negeri Rusia, Sabtu. "Sanksi-sanksi diarahkan untuk mengganggu proses politik," kata kementerian dalam satu pernyataan setelah pengumuman langkah-langkah terbaru tentang pada Jumat itu. "Kami menyarankan Washington dan Ottawa untuk berpikir tentang konsekuensi dari tindakan seperti itu," kata Kemlu Rusia. Laporan-laporan dari Kiev sebelumnya mengatakan, Amerika Serikat memberlakukan sanksi-sanksi pada Jumat atas Krimea, sementara Ukraina mengumumkan kehilangan lima tentaranya menjelang pembicaraan perdamaian yang dimaksudkan untuk menghentikan perang terhadap para pemberontak dukungan Rusia. Presiden Barack Obama melarang ekspor barang-barang dan jasa Amerika ke Krimea, satu semenanjung strategis dan destinasi liburan yang Rusia kuasai dari Ukraina Maret lalu. "Amerika Serikat tak akan menerima pendudukan dan usaha pencaplokan Krimea," kata Obama dalam satu pernyataan. Langkah-langkah serupa diberlakukan pada Kamis oleh Uni Eropa sementara Barat berusaha menekan Moskow karena pengambilan Krimea dan dukungan bagi pemberontakan oleh para militan pro-Rusia di bagian timur Ukraina. Kanada juga menambah sanksi-sanksi baru pada Jumat, yang menyasar para pemimpin separatis dan sektor gas dan minyak di Rusia, tempat pemerintah sedang menghadapi penurunan nilai mata uang dan krisis ekonomi. Sebelumnya Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov memperingatkan bahwa sanksi-sanksi yang diancam AS "dapat mengganggu kemungkinan kerja sama normal antara negara kita untuk waktu lama". Tekanan Barat tersebut terjadi ketika Ukraina dan para pemberontak siap-siap mengadakan pembicaraan proses perdamaian yang terhenti. Namun, militer Ukraina melaporkan kehilangan lima tentara pada Jumat. Tahap berikut dimaksudkan menjadi perundingan-perundingan komprehensif. Presiden Ukraina Petro Poroshenko berharap dapat memulai negosiasi pada Minggu, dengan bantuan utusan-utusan Eropa dan Rusia di Minsk, Ibu Kota Belarusia. Tapi seorang tokoh pemberontak mengatakan para pemberontak hanya akan siap pada Senin. "Kami sepakati daftar umum isu-isu yang perlu kami bahas," kata Vladislav Deynego, perunding pemberontak, kepada kantor berita AFP melalui telepon. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
