
Senat AS Akui Kekejaman Penyiksaan CIA

Washington, (Antara/AFP) - Penyiksaan CIA terhadap terduga Al-Qaeda ternyata jauh lebih brutal dari yang selama ini dibayangkan dan tidak efektif dalam pengumpulan informasi intelejen, kata laporan Senat Amerika Serikat, Selasa. Badan intelijen itu juga dinilai menipu Gedung Putih dan Kongres dengan klaim bohong mengenai kegunaan program penyiksaan dalam mencegah serangan, kata laporan dari Komite Intelijen Senat. Presiden Barack Obama sendiri juga mengakui bahwa taktik CIA yang diungkap dalam laporan setebal 500 halaman itu adalah hal yang "brutal." "Benar bahwa kita telah mengambil langkah-langkah yang bertentangan dengan idenditas dan nilai-nilai yang kita anut," kata Obama. Para tahanan dipermalukan dengan memasukkan benda keras dan cair ke dalam dubur yang sangat menyakitkan dan tidak perlu. Sementara itu direktur CIA John Brennan mengatakan bahwa taktik yang keras yang digunakan pada masa kepresidenan George W. Bush itu merupakan keharusan. Dia bersikeras bahwa teknik penyiksaan brutal "menghasilkan informasi intelijen yang membantu pencegahan serangan, penangkapan teroris, dan menyelamatkan nyawa warga Amerika Serikat." Di sisi lain, penerbitan laporan Senat yang merinci metode penyiksaan brutal itu membuat sejumlah kedutaan besar Amerika Serikat memperketat keamanan untuk berjaga-jaga terhadap reaksi marah warga di sejumlah negara.119 Korban Penyiksaan Senator Dianne Feinstein mengatakan bahwa setidaknya terdapat 119 tahanan yang mengalami "teknik interogasi paksa dan penyiksaan." Para korban itu ditangkap pada 2001 setelah Al-Qaeda menghancurkan gedung kembar pusat perdagangan dunia (WTC) di New York, dan terus ditahan sampai 2009. Mereka mengalami penyiksaan di sejumlah penjara rahasia CIA di sejumlah negara dan di pusat penahanan Guantanamo Bay, Kuba. Kondisi tahanan paling mengerikan terjadi di penjara berkode Cobalt di negara yang masih dirahasiakan. Pada waktu-waktu tertentu, "para korban berjalan di sekitar area dengan telanjang dan tangan terikat di atas kepala," kata laporan Senat. Senat menyimpulkan bahwa "interogasi oleh CIA jauh lebih brutal dan lebih buruk dibanding yang dilaporkan CIA kepada pihak berwenang." Laporan Senat itu disusun oleh anggota dari Partai Demokrat dan diboikot oleh sejumlah politisi Partai Republik. Namun Senator Republikan John McCain, mantan tawanan perang yang sempat mengalami penyiksaan di Vietnam, memuji laporan tersebut dan mengatakan bahwa teknik brutal tidak membuat Amerika Serikat menjadi negara yang lebih aman. "Dari pengalaman pribadi saya tahu bahwa kekejaman terhadap tawanan hanya akan memperburuk keadaan," kata McCain. Publik internasional juga memberi tanggapan atas penyiaran laporan itu. Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan bahwa "mereka di dunia yang lebih aman dan kekalahan ekstremisme, tidak akan menang jika kehilangan kekuatan moral." (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
