
Pakar: Demokrasi Patrimonial Perlu Keteladanan Pemimpin

Jakarta, (ANTARA) - Pakar politik Indria Samego mengatakan sistem demokrasi Indonesia yang patrimonial memerlukan figur seorang pemimpin yang bisa menjadi teladan bagi seluruh rakyat. "Sistem patrimonial telah mewarnai demokrasi Indonesia dari Aceh sampai Papua. Karena keteladanan pemimpin sangat penting," kata Indria Samego di Jakarta, Rabu. Indria Samego menjadi salah satu pembicara pada Pleno I Silaturahim Kerja Nasional (Silaknas) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) bertema "Penataan Kembali Sistem Politik dan Otonomi Daerah" di Balai Sidang Jakarta. Menurut dia, demokrasi dan sistem politik Indonesia yang patrimonial, yaitu bergantung pada figur yang memimpin, terlihat dari perubahan sistem politik dan demokrasi yang terjadi selama ini. "Pada 1959, Soekarno mencetuskan Demokrasi Terpimpin, sedangkan saat Orde Baru Soeharto mencetuskan Demokrasi Pancasila. Di era reformasi, sistem politik dan demokrasi berubah lagi," tuturnya. Meskipun Indonesia saat ini kembali memiliki banyak partai seperti sebelumnya, tetapi masih belum terlihat adanya perubahan pola politik dan demokrasi yang lebih baik. "Saat ini, yang bisa berkuasa adalah orang-orang yang menguasai partai politik, yaitu ketua umumnya. Bisik-bisik yang kemudian muncul, terjadi politik uang untuk bisa menjadi ketua umum partai," ucapnya. Hal itu, kata dia, tidak bisa mencerminkan demokrasi Indonesia yang sesungguhnya. Silaknas dan ICMI Expo 2012 dalam rangka Milad ke-22 ICMI menghadirkan beberapa tokoh untuk berbicara dalam beberapa pleno yang berjalan paralel. Selain Indria Samego, tokoh yang menjadi pembicara pada Pleno I adalah Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD dan Wakil Ketua DPD La Ode Ida. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
