
KKP Bakal Kembangkan Budidaya dengan Total Akuakultur

Yogyakarta, (Antara) - Kementerian Kelautan dan Perikanan bakal mengembangkan budidaya perikanan yang memiliki banyak potensi di Tanah Air dengan menerapkan konsep Total Akuakultur terutama di kawasan minapolitan di berbagai daerah. "Dengan Total Akuakultur di semua lini produksi dari induk, benih, pengelolaan pakan, pengelolaan air, dan menuju zero waste aquaculture, peningkatan produksi secara efektif dan efisiean akan dapat tercapai," kata Dirjen Budidaya Perikanan KKP Slamet Soebjakto dalam keterangan tertulis yang diterima di Yogyakarta, Selasa. Slamet menjelaskan, konsep Total Akuakultur adalah penerapan teknologi tepat guna dalam rantai produksi perikanan dari hulu sampai hilir. Penerapan Total Akuakultur itu, ujar dia, ke depannya bakal semakin meningkatkan produksi dan daya saing produk perikanan hasil budidaya. Ia juga mengemukakan, kawasan minapolitan perikanan budidaya merupakan kawasan percontohan untuk penerapan Total Akuakultur ini. Minapolitan merupakan konsepsi pembangunan ekonomi yang berbasis kawasan berdasarkan prinsip-prinsip terintegrasi, efisiensi, berkualitas dan percepatan pembangunan. "Minapolitan perikanan budidaya telah berhasil menjadi embrio munculnya kawasan industri perikanan budidaya baru dan berkembangnya perekonomian daerah. Dan keberhasilan ini menjadi contoh daerah lain yang memiliki potensi serupa, sehingga memberikan dampak yang positif bagi daerah lainnya," ujarnya. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP telah menyusun pemeringkatan kawasan minapolitan berdasarkan tiga kriteria utama yaitu persyaratan administrasi, terjalinnya koordinasi di daerah dan usaha budidaya perikanan budidaya berkembang di kawasan tersebut. Ia mengemukakan ada 11 Kabupaten/Kota yang masuk pada kategori A yaitu Aceh Tenggara, Agam, Kampar, Muaro Jambi, Musi Rawas, Indramayu, Bogor, Banjar, Sumbawa, Sumba Timur dan Kota Jayapura. "Kawasan minapolitan kami yakin siap dengan sistem Total Akuakultur ini, karena sudah beberapa lokasi menggunakan teknologi terbaru seperti induk unggul, vaksin, benih, lingkungan, sirkulasi dengan closed system, probiotik, dan lainnya. Melalui penerapan teknologi, dapat meningkatkan produksi akuakultur antara 40-50 persen," pungkas Slamet. Sementara itu, Sekretaris Jenderal KKP Sjarief Widjaja menyatakan berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2013 oleh BPS menyebutkan tingkat pendapatan pelaku sektor perikanan mengungguli kelompok sektor pertanian lainnya. "Dari sisi pendapatan petani dan nelayan, memang saat ini dapat diukur dari nilai tukar nelayan (NTN), yakni 112 untuk nelayan dan 104 untuk pembudidaya. Nilai tersebut sudah jauh lebih tinggi dibanding petani secara umum," kata Sjarief dan menambahkan nilai tertinggi dalam sektor perikanan diraih bidang usaha ikan hias dengan pendapatan rata-rata mencapai Rp50 juta per tahun. Selanjutnya, ujar dia, disusul pembudidaya perairan umum Rp34 juta per tahun, pembudidaya air payau Rp29 juta dan nelayan Rp27 juta per tahun. Kelompok sektor pertanian lainnya, lanjut dia, seperti petani tanaman pangan, misalnya, hanya Rp10 juta per tahun. Sebagaimana diketahui, KKP bersama Universitas Gajah Mada menggelar Kongres Maritim Nasional di Yogyakarta, 23-24 September 2014. (*/sun)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
