Logo Header Antaranews Sumbar

PVMBG: Aktivitas Gunung Slamet Masih Tinggi

Senin, 22 September 2014 13:46 WIB
Image Print

Purwokerto, (Antara) - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan bahwa aktivitas Gunung Slamet di Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes, Jawa Tengah, masih tinggi. "Pada hari ini, secara seismik aktivitasnya tinggi. Mau seperti apa besok, sulit berandai-andai, tapi yang jelas, aktivitas Gunung Api Slamet secara seismik hari ini tinggi," kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Slamet PVMBG Sudrajat saat dihubungi dari Purwokerto, Senin. Ia mengakui bahwa secara visual, aktivitas Gunung Slamet seolah mengalami penurunan karena pada Senin siang hanya terlihat embusan asap putih tipis. Bahkan jika yang diembuskan berupa asap putih tebal, kata dia, ketinggiannya hanya sekitar 50 meter dari puncak Gunung Slamet. Akan tetapi secara seismik, lanjut dia, aktivitas Gunung Slamet masih tinggi yang terlihat dari kegempaannya karena terekam gempa tremor harmonik menerus. "Secara seismik yang biasanya satu kertas bisa untuk tiga jam, sekarang paling 25 menit karena amplitudonya gede-gede. Kalau tidak digeser secara manual akan tertumpuk karena ini adalah arsip yang tak ternilai harganya untuk ke depan," katanya. Disinggung mengenai erupsi yang terjadi pada 17-18 September, Sudrajat mengakui bahwa beberapa hari sebelumnya, Gunung Slamet menunjukkan penurunan aktivitas yang terlihat secara visual maupun seismik. "Waktu itu memang sangat tenang seolah betul-betul 'tidur' secara visual maupun secara seismik. Tetapi indikator lain tidak 'tidur', berupa pemantauan deformasi maupun suhu sumber air panas," katanya. Oleh karena itu, kata dia, PVMBG membutuhkan banyak data untuk bisa menurunkan status Gunung Slamet yang saat ini masih "Siaga". "Semakin banyak data, akan semakin baik," tambahnya. Saat ditanya kemungkinan Gunung Slamet akan kembali erupsi dalam beberapa hari ke depan, dia mengatakan bahwa pihaknya tidak bisa berandai-andai meskipun secara seismik terekam gempa tremor harmonik menerus. Menurut dia, tremor harmonik menerus yang terekam pada Senin (22/9) mengindikasikan adanya suplai energi baru dari dalam perut Gunung Slamet. "Tetapi apakah sampai ke permukaan atau tidak atau tiba-tiba berhenti, ya kita ikuti saja. Yang terpenting adalah masyarakat jangan beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari puncak Gunung Slamet," katanya. Berdasarkan data pengamatan PVMBG di Pos Pengamatan Gunung Api Slamet, Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, pada Senin (22/9) pukul 00.00-06.00 WIB, Gunung Slamet secara visual teramati mengeluarkan asap putih tebal dengan ketinggian 50 meter dari puncak, sedangkan secara seismik terekam 32 kali gempa embusan dengan amplitudo 4-32 milimeter dan 13 kali gempa tremor harmonik dengan amplitudo 13-34 milimeter. Bahkan, pada pukul 05.06-06.00 WIB, terekam tremor harmonik menerus dengan amplitudo 12-40 milimeter yang dominan pada 25 milimeter. Sementara pada periode pengamatan pukul 06.00-12.00 WIB, Gunung Slamet secara visual teramati mengeluarkan asap putih tipis hingga tebal dengan ketinggian 50-100 meter dari puncak, sedangkan secara seismik terekam 25 kali gempa embusan dengan amplitudo 3-43 milimeter dan gempa tremor harmonik menerus pada pukul 06.07-11.20 WIB dengan amplitudo 3-47 milimeter yang dominan pada 30 milimeter. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026