
OJK Nilai Rasio Permodalan Perbankan Masih Tinggi

Jakarta, (Antara) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kondisi permodalan perbankan nasional masih tinggi, meskipun terdapat kewaspadaan potensi pembalikan arus modal, salah satunya akibat normalisasi kebijakan ekonomi Amerika Serikat terhadap negara berkembang. Kondisi masih baiknya industri perbankan terindikasi dari rasio kecukupan modal (Capital Adequancy Ratio/CAR) sebesar 19,39 persen, kata Deputi Komisioner Manajemen Strategis IB OJK Lucky Fathul Aziz di Jakarta, Kamis. "CAR didominasi komponen modal inti (tingkat I), rentabilitas stabil dengan kecenderungan sedikit menurun," ujarnya, yang mengemukakan hasil Rapat rutin Dewan Komisioner OJK. Dia mengatakan Otoritas juga memandang rentabilitas perbankan stabil. Hal tersebut terindikasi dari tingkat Return on Asset (RoA) yang stabil. Adapun, Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) perbankan masih relatif meningkat, kata Lucky. Hasil evaluasi dari Rapat Dewan Komisioner juga menyoroti kondisi global mengenai pemulihan ekonomi pada negara maju yang terus berlanjut namun tidak merata. Mulai pulihnya ekonomi global dapat berdampak pada semakin ketatnya likuiditas keuangan di negara negara berkembang, karena dana investasi kembali mengalir ke negara maju. Selain itu, Lucky mengemukakan membaiknya indikator ketenagakerjaan di Amerika Serikat dapat menimbulkan spekulasi percepatan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS The Fed, yang diperkirakan pada semester I 2015. Hal itu juga dapat menimbulkan pembalikkan arus modal. Namun, jika melihat likuiditas perbankan, Lucky mengatakan rasio cukup stabil dengan tingkat resiko yang juga relatif stabil. Hal itu terindikasi dari alat likuid perbankan yang dinilai cukup memadai untuk mengantisipasi potensi penarikan DPK. OJK mencatat rasio alat likuid terhadap DPK pada Juli 2014 adalah sebesar 17 persen. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
