
PM Lesotho Minta SADC Kirim Pasukan Pasukan Pemelihara Perdamaian

Johannesburg, (Antara/Xinhua-OANA) - Perdana Menteri Lesotho Thomas Thabane telah meminta Masyarakat Pembangunan Afrika Selatan (SADC) mengirim pasukan pemelihara perdamaian ke negerinya, setelah tindakan yang jelas merupakan kudeta militer. "Situasi tak terkendali," kata pembantu Thabane, Samonyane Ntsekele, kepada media saat Organ SADC mengenai Politik, Pertahanan dan Keamanan mengadakan pertemuan guna membahas krisis tersebut di Pretoria, Afrika Selatan. "Anda tak bisa lagi mengatakan anda hanya bisa mengirim satu misi. Anda memerlukan campur-tangan tentara," kata Ntsekele, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa pagi. SADC pada Senin (1/9) melanjutkan misinya di Ibu Kota Afrika Selatan, Pretoria, mengenai upaya kudeta oleh militer Lesotho. Yang hadir dalam pertemuan itu adalah Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma dan menteri luar negeri dari Zimbabwe dan Namibia. Pertemuan tersebut dimulai pada Ahad malam (31/8), dengan harapan bisa menemukan penyelesaian bagi kerusuhan politik di negara kecil Afrika itu. Afrika Selatan, yang wilayahnya mengelilingi Lesotho, telah mengirim peringatan kuat kepada militer Lesotho bahwa perubahan pemerintah tak konstitusional semacam itu tak bisa ditolerir, kata Juru Bicara Lembaga Kerja Sama dan Hubungan Internasional Afrika Selatan Clayson Monyela. Thabane, yang menyelamatkan diri ke Afrika Selatan sebelum militer tiba di rumahnya, dan pesaingnya Wakil Perdana Menteri Mothejoa Metsing berada di Pretoria untuk bertemu dengan Zuma dan para pejabat SADC. Thabane, yang menuduh Metsing melancarkan upaya kudeta, mengatakan upaya kudeta tersebut adalah rencana untuk menggulingkan dia. "Kecurigaan bahwa mungkin terjadi kudeta tak sepenuhnya tidak benar. Ada upaya kudeta, tapi saya kira itu sudah berakhir sebelum dimulai dan itu takkan terjadi," kata Thabane. "Kami menangani situasi guna menormalkan sesegera mungkin." Pada Sabtu dini hari, militer Lesotho untuk sebentar menduduki Markas Polisi, Stasiun Radio dan Televisi di negeri tersebut, sehingga menimbulkan spekulasi mengenai kudeta. Seorang prajurit dan empat polisi cedera selama baku-tembak antara polisi, yang kebanyakan setia kepada Thabane, dan militer --yang kebanyakan setia kepada Metsing. Namun, militer telah membantah tentara melancarkan kudeta dan mengatakan tindakan mereka pada Sabtu (30/8) dirancang untuk mencegah polisi mempersenjatai "kaum politik fanatik". Walaupun militer sejak itu telah kembali ke barak, tindakan paling akhir tersebut telah makin membuat lemah pemerintah koalisi --yang memang rapuh-- di negeri itu. (*/sun)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
