Logo Header Antaranews Sumbar

Harga Minyak Dunia di Asia Naik

Senin, 4 Agustus 2014 15:27 WIB
Image Print
Ilustrasi. (Antara)

Singapura, (Antara/AFP) - Harga minyak dunia naik di Asia pada Senin, tetapi para analis mengatakan kenaikannya terbatas setelah permintaan melemah karena penutupan kilang-kilang dan berkurangnya kekhawatiran tentang konflik bersenjata di seluruh dunia. Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September naik 10 sen menjadi 97,98 dolar AS, sementara Brent untuk September naik 23 sen menjadi 105,07 dolar AS di perdagangan sore. United Overseas Bank Singapura mengatakan harga minyak tertekan oleh beberapa faktor "termasuk masalah logistik dalam sistem pipa dan kilang yang melemahkan permintaan dan ada cukup pasokan global meskipun ada masalah di Irak, Libya dan Eropa Timur". Laporan penutupan kilang-kilang di Amerika Serikat pekan lalu telah menyebabkan kekhawatiran bahwa persediaan minyak mentah akan menumpuk di Cushing, Oklahoma, pusat perdagangan minyak, karena pasokan yang melimpah akan memperlemah harga. Harga minyak telah melihat sebuah penumpukan premi risiko dalam beberapa bulan terakhir atas pemberontakan bersenjata di produsen minyak mentah Irak dan Libya, serta Ukraina, saluran utama untuk ekspor energi Rusia ke Eropa. Tetapi pasar dibanjiri dengan persediaan sejak meredanya kekhawatiran bahwa gangguan yang disebabkan oleh krisis geopolitik akan memiliki dampak yang signifikan terhadap harga. Desmond Chua, analis pasar di CMC Markets di Singapura, mengatakan investor juga mencerna laporan pekerjaan AS lemah yang dirilis Jumat lalu. Departemen Perdagangan melaporkan bahwa ekonomi AS, yang terbesar di dunia, menghasilkan 209.000 pekerjaan baru pada Juli turun dari Juni, tetapi mempertahankan penambahan 200.000 lebih pekerjaan bulanan beruntun sejak Februari. Tingkat pengangguran naik 0,1 persentase poin menjadi 6,2 persen. "Meskipun angka penggajian (payrolls) mengecewakan, itu juga keenam bulan berturut-turut ekonomi menambahkan lebih dari 200.000 pekerjaan untuk perekonomian," kata Chua. "Hal ini secara luas dianggap sebagai pertumbuhan tenaga kerja yang sehat oleh para ekonom," katanya menambahkan. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026