
Saham Rusia Jatuh Setelah AS Perluas Sanksinya

Moskow, (Antara/AFP/Xinhua) - Saham raksasa energi Rusia Rosneft dan OA Novatek turun tajam pada Kamis, setelah mereka menjadi sasaran sanksi Amerika Serikat atas Ukraina, sementara pasar turun lebih dari 2,5 persen dan rubel jatuh terhadap euro dan dolar. Saham Rosneft turun 5,4 persen, sementara saham OA Novatek jatuh 6,8 persen ketika bursa saham MICEX dibuka, kantor berita Interfax melaporkan setelah Presiden Barack Obama melarang perusahaan dari pasar modal AS. Bursa MICEX turun 2,52 persen pada pembukaan, sedangkan bursa RTS dalam mata uang dolar turun 3,44 persen, kantor berita ITAR-TASS melaporkan. Bursa kemudian sedikit menguat dengan MICEX turun 1,91 persen dan RTS turun 2,94 persen pada 06.30 GMT. Rubel juga jatuh nilainya terhadap mata uang terkemuka. Dolar menguat terhadap rubel menjadi bernilai 34,76 rubel dan euro naik menjadi bernilai 47,03 rubel pada sekitar 06.30 GMT. Amerika Serikat pada Rabu meningkatkan sanksi terhadap Rusia atas krisis Ukraina, menargetkan sejumlah bank Rusia serta perusahaan-perusahaan energi dan pertahanan, media AS melaporkan. Perusahaan-perusahaan yang ditargetkan termasuk Rosneft, produsen minyak terbesar Rusia, Gazprombank anak perusahaan keuangan Gazprom, raksasa produsen gas alam yang dikontrol negara, Novatek, produsen gas alam Rusia lainnya, dan Vnesheconombank, bank pembangunan ekonomi negara, The New York Times melaporkan dalam laman internetnya. Sanksi baru adalah langkah yang paling menghukum sampai saat ini untuk intervensi Rusia di Ukraina, laporan itu mengutip pernyataan pejabat AS, menambahkan bahwa mereka akan sangat membatasi akses ke pasar utang Amerika untuk perusahaan yang ditargetkan. "Kami telah mengatakan untuk beberapa waktu bahwa kegagalan Rusia mengambil beberapa langkah-langkah yang akan mengurangi konflik di Ukraina menempatkan mereka pada risiko menghadapi isolasi yang lebih besar dan konsekuensi ekonomi yang lebih besar," juru bicara Gedung Putih Josh Earnest mengatakan pada konferensi pers reguler sebelum sanksi baru dilaporkan. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
