
Kabinet Israel Berencana Bahas Usul Gencatan Senjata Mesir

Jerusalem, (Antara/Xinhua-OANA) - Kabinet keamanan Israel dijadwalkan bersidang pada Selasa pagi waktu setempat guna membahas usul Mesir yang bertujuan mengakhiri konflik antara tentara Israel dan kelompok gerilyawan Palestina di Jalur Gaza, kata media Israel. Beberapa pejabat Israel yang tak disebutkan jati diri mereka dan dikutip oleh media Israel mengatakan Pemerintah Israel memperhatikan usul Mesir itu secara sungguh-sungguh, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa sore. Pemerintah Mesir pada Senin malam (14/7) mengusulkan gencatan senjata antara Israel dan kelompok gerilyawan Palestina di Jalur Gaza. Menurut usul tersebut, kedua pihak akan mengakhiri "permusuhan" hingga pukul 09.00 waktu setempat pada Selasa. Usul itu, yang disiarkan pada malam kunjungan Menteri Luar Negeri AS John Kerry ke Ibu Kota Mesir, Kairo, menyatakan Israel akan mengakhiri semua "permusuhan di Jalur Gaza dari darat, udara dan laut dan akan menahan diri dari melancarkan serangan darat yang mengincar warga sipil". Menuru usul tersebut, faksi gerilyawan Palestina akan menghentikan semua "permusuhan" yang berasal dari Jalur Gaza terhadap Israel. Gagasan Mesir itu menyerukan pembukaan kembali tempat penyeberangan perbatasan ke dalam Jalur Gaza buat penumpang dan barang saat situasi keamanan sudah stabil. Berdasarkan usul tersebut, wakil Pemerintah Palestina dan faksi Palestina akan pergi ke Kairo dalam waktu 48 jam setelah gencatan senjata berjalan guna membahas "langkah untuk membangun kepercayaan" antara kedua pihak. Pemerintah Mesir, menurut rencana itu, akan menyelenggarakan pembicaraan terpisah dengan Israel dan Palestina di Kairo. Sebagaimana dikutip media, Juru Bicara HAMAS Fawzi Barhoum pada Senin malam mengatakan gerakannya takkan menerima setiap gencatan senjata yang tak memasukkan persyaratan rakyat dan kelompok Palestina. Di antara persyaratan yang didaftar HAMAS adalah pembebasan orang Palestina yang ditangkap oleh Israel dalam beberapa pekan belakangan, pencabutan blokade Israel dan diakhirinya agresi militer saat ini terhadap Jalur Gaza. Konflik berdarah antara tentara Israel dan kelompok gerilyawan Palestina di Jalur Gaza berkecamuk pada Senin pada hari ketujuh berturut-turut, sehingga menewaskan hampir 190 orang Palestina, kebanyakan dari mereka warga sipil. Sejak Israel melancarkan "Operation Protective Edge" pada Selasa (8 Juli), militer Israel telah menjatuhkan ratusan ton bom di Jalur Gaza, yang dikuasai HAMAS, dari udara, laut dan darat sementara HAMAS dan kelompok lain Palestina menembakkan hampir 1.000 roket ke dalam wilayah Israel. Sebagian di antara roket tersebu jatuh di dalam wilayah Israel Tengah dan Utara. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
