
12 Prajurit Tewas Dalam Pemboman Bunuh Diri di Irak

Baghdad, (Antara/Xinhua-OANA) - Seorang pembom mobil bunuh diri menyerang pasukan Angkatan Darat Irak di Provinsi Salahudin di Irak Tengah pada Jumat, menewaskan tak kurang 12 prajurit dan melukai sebanyak 30 prajurit lagi, kata satu sumber polisi provinsi. Serangan tersebut terjadi di dekat Kota Kecil Dijla di sebelah selatan Ibu Kota Provinsi itu, Tikrit, sekitar 170 kilometer di sebelah utara Ibu Kota Irak, Baghdad. Saat itu seorang pembom bunuh diri mengendarai mobilnya, yang diisi bahan peledak di dekat pasukan tersebut, kata sumber yang tak mau disebutkan jatidirinya itu kepada Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu pagi. Daerah di dekat Kota Kecil Dijla, yang juga bernama Mkesheifah, menjadi ajang pertempuran saat pasukan keamanan Irak beberapa hari sebelumnya gagal melintasi zona itu dalam perjalanan untuk merebut kembali Tikrit akibat perlawanan sengit kelompok gerilyawan. Irak telah menyaksikan kondisi keamanan terburuknya yang dimulai lebih dari dua pekan sebelumnya, ketika gerilyawan bersenjata --yang dipelopori oleh sempalan kelompok Al Qaida (ISIL)-- melancarkan serangan mengejutkan yang mengakibatkan bencana bagi pasukan keamanan Irak. Gerakan mengejutkan gerilyawan tersebut juga membuat banyak wilayah barat dan utara negeri itu jatuh. Pada Kamis (3/7), seorang utusan PBB untuk Baghdad mengatakan Irak terancam jatuh ke kancah kekacauan seperti yang dialami Suriah jika elit politik gagal bersatu dan menyepakati pemerintahan. Nickolay Mladenov mendesak pemimpin Irak mendorong upaya politik dengan pemilihan ketua parlemen, presiden dan perdana menteri. Namun ia mengakui ketegangan kali ini lebih buruk daripada puncak perang antar-aliran di negara tersebut pada 2006. "Jika Irak tidak mengikuti proses konstitusi politiknya, apa pilihannya?" kata Mladenov dalam sebuah wawancara dari kantornya di Baghdad. "Irak terancam jatuh ke dalam kekacauan seperti Suriah. Dan itu lah yang perlu untuk dipahami, dengan sangat sangat cepat," katanya. Mantan menteri luar negeri dan pertahanan Bulgaria itu mengatakan bahwa jika para pemimpin Irak tidak segera mewujudkan proses politik itu, mereka masuk "ke dalam situasi yang tidak dapat diduga". Pernyataannya itu dikeluarkan seiring dengan terjadinya serangan yang dipimpin oleh gerilyawan di lima provinsi di sebelah utara dan barat Baghdad. Serangan itu memaksa ratusan ribu orang mengungsi dan menambah tekanan pada Perdana Menteri petahana Nuri Al-Maliki. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
